Kamis, 29 September 2016

when i meet you

udah cukup tua sih buat nulis yang model beginian di blog.
iya ga sih?
tapi iseng aja main facebook lagi. liat akun yang terbengkalai. buka buka album foto. beberapa foto tag.an orang.

dan tiba-tiba. inget sesuatu.
mei 2013.
lagi galau galau nya ( kapan ya gue ga galau?) hahaha.
ada seorang cowo tengil.
selalu ngejekin gue. karena gue kalo posting twitter pasti tengah malem (gue pernah se labil itu loh!).
orang-orang udah pada tidur. gue masih galau sambil posting twitter. berharap orang yang gue kode.in di twitter ngeh. dan setelah ngeh, gatau lagi. gue gatau apa yang gue harapin saat orang yang gue kode.in sadar, terus?

si cowo tengil ini selalu ngejekin gue. selalu.
ntah itu langsung di twitter. atau PM lewat BBM. atau langsung pas ketemu.
selalu.
tapi dia selalu nanya-nanya sama gue. tentang apapun itu.
pelajaran. organisasi. hal-hal receh-receh lainnya.

mei 2013. di pulau Pari. saat gathering PENGMAS.
ada dia. emang pasti ada dia sih. tapi gue ga ngeh. karena galau. hahaha
sepanjang jalan. di kapal. di pulau. di tenda. kita ngobrol terus. ngobrolin apapun itu.
dia sama temennya masih ngejekin gue ratu galau. padahal dia junior gue.
emang dasar junior durhaka.
" iya deh gue galau. kaya kalian ga pernah galau aja." jawab gue waktu mereka ngejekin gue.
" lah emang Tama pernah pacaran?" kata temennya. " belum pernah pacaran juga lo Tam."
kaget dong gue. dia ternyata belum pernah pacaran. padahal gue tau, adek-adek tingkat banyak (banget) yang naksir si anak tengil ini. dia belum pernah pacaran dong.
gue ketawa puas banget. banget. banget.

anak tengil

2 hari di pulau rame-rame. ga ada perasaan apapun yang terlintas. ga pernah ngebayangin apapun. gue sibuk galau.
pulang dari pulau naik kapal lagi. dan gue ngantuk banget. dapet tempat duduk atas mesin. ga ada senderan. mau tidur banget. tiba-tiba dia nawarin punggungnya. iya si tengil. ga pikir panjang gue pinjem punggungnya dan tidur sepanjang perjalanan balik jakarta. ga peduli dia kesemutan atau keberatan apa kaga. maklum gue lagi gendut-gendutnya. abis operasi.
gue bangun pas nyampe jakarta. muka dia lempeng se lempeng lempengnya. dan gue tetap ga merasa bersalah cuma bilang makasih.

dan.....
ternyata di pulau itu awal semuanya. 3 tahun ini aku jalanin bareng kamu. marah, sedih, ketawa, susah, seneng, kita lalui bareng-bareng. aku masih galau selalu galau soal apapun. dan kamu, kadang buat semua tambah rumit tapi terasa lebih mudah.
dan malam ini aku jadi wanita 24 tahun yang norak. karena sebuah foto di facebook. tapi cukup membuat aku tersenyum, hati aku terasa hangat, hanya dengan mengingat hari dimana aku ketemu kamu.
terima kasih. cuma itu yang ada dibenak aku setiap bareng kamu. terima kasih ya Tam, sudah ngejek aku saat itu. terima kasih untuk semua alasan yang ntah kamu buat-buat atau engga buat jadi bahan kita ngobrol. terima kasih sudah tabah nerima takdir kalo orang kaya aku yang jadi pacar pertama kamu.


Allah tau apa yang di dalam hati aku.
kalaupun Allah ga mengabulkan. naif kalo aku ga sedih. tapi aku percaya Allah punya rencana lain yang lebih baik buat aku maupun kamu.
dan kamu akan selalu jadi laki-laki baik dalam ingatan aku. si tengil yang nyebelin. tapi ga pernah ninggalin aku dalam kesedihan dan kesulitan apapun itu.

tertanda,
Aku

Rabu, 10 Agustus 2016

Sumpah

Demi Allah saya bersumpah, bahwa : 
1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan. 
2. Saya akan menjalankan tugas dengan cara yang terhormat dan bersusila sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter. 
3. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur profesi kedokteran. 
4. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena keprofesian saya. 
5. Saya tidak akan menggunakan pengetahuan saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam.
6. Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai saat pembuahan. 
7. Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan pasien, dengan memperhatikan kepentingan masyarakat. 
8. Saya akan berikhtiar dengan sungguh­sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, gender, politik, kedudukan sosial dan jenis penyakit dalam menunaikan kewajiban terhadap pasien. 
9. Saya akan memberi kepada guru­guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya. 
10. Saya akan perlakukan teman sejawat saya seperti saudara kandung. 
11. Saya akan mentaati dan mengamalkan Kode Etik Kedokteran Indonesia. 
12. Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh­sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya.

6 tahun lalu, di semester awal, dimana semua yang akan saya pertanggungjawabkan di hadpaan Pencipta nantinya, dimulai. Pertama kali membaca lafaz ini disebuah buku hijau yang berjudul "etika Kedokteran", hati saya berdebar, takut, bulu kuduk saya berdiri merinding.
seberat itu amanah yang akan saya emban nantinya. mampukah saya?

pernah suatu hari, almarhum paps bilang, ketika saya gagal disebuah ujian dan harus mengulang, "yang kamu pelajari sekarang, berhubungan dengan mahluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Takdir Allah mengenai hidup-mati seseorang dititipkanNya di kedua tangan kamu. Makanya, Allah ingin kamu belajar dengan serius."

Mungkin, Profesi ini bukanlah profesi yang menguntungkan. terutama saat ini, di negara ini. dimana seluruh mata tersorot pada setiap langkah dan gerak yang akan kami lakukan.
yang terbaik bagi pasien, bisa jadi salah diseluruh mata yang melihat.
tapi, akan menjadi suatu kehormatan bagi siapa pun yang nantinya atau telah mengucapkan sumpah ini, dan dengan tulus ikhlas mengabdi untuk semua orang yang tidak pernah dia ketahui asal usulnya, tak peduli suku dan rasnya, yang mengorbankan waktu bersama keluarga atau waktu untuk beristirahat hanya untuk menjalankan tugas sebagai perpanjangan tangan Tuhan. 
namun, profesi setidaknya telah meletakkan satu kakimu di syurga dan satu kaki lagi berada di neraka.

ketika suatu hari nanti kamu lelah dan tergoda....
kembali lah ke hari dimana kamu mengucapkan lafaz ini didepan semua saksi termasuk orangtuamu.
ketika suatu hari kamu berniat memperlakukan pasienmu dengan tidak hormat...
ingatlah, bagaimana jika orangtuamu atau orang yang kamu sayangi diperlakukan secara tidak hormat oleh seorang dokter.

jadilah dokter yang baik.
bagi keluarga
bagi agama
bagi bangsa
bagi negara
dengan seluruh kehormatan yang kau punya wahai aku ;)






selamat, dok. negara menunggu pengabdian mu :)


Selasa, 08 Maret 2016

Untukmu yang akan menggelariku " istri-ku "


Untukmu yang suatu hari akan mendatangiku dengan sebuah kotak cincin merah ditangan
Dengan ketulusan hati meminta hatiku untuk tinggal didalam rumah yang kau bangun didalam hatimu sampai akhir hayat
Pahamilah, jika aku berkata "ya" itu bukan karena apa yang ada di dalam kotak merah yang kau bawa
Melainkan apa yang ada didalam hatimu dan tentunya apa yang ada didalam hatiku

Untukmu yang nanti akan mengucapkan janji setia didepan Allah, dimana saat itu tanggung jawab orangtuaku otomatis berpindah ke bahumu
Pahamilah, hari itu mungkin salah satu hari tersedih didalam hidupku, karena yang menjabat tanganmu nanti bukanlah ayahku melainkan waliku
Tapi, kau harus tetap percaya bahwa beliau pun akan tersenyum kepadamu saat janji terucap dari bibirmu.

Untukmu yang nanti akan menggelari aku dengan gelar "istriku"
Terima kasih sebelumnya, karena telah menjadi "aamiin" diakhir doa doa yang ku panjatkan kepada Allah
Karena mungkin kamu tidak tahu, kamulah hadiah yang disimpan oleh Allah untuk segala penantian

Untukmu yang akan menjadi imamku, cintailah aku sebagaimana rasulullah mencintai khadijah dan aku akan memantaskan diri untuk menjadi seperti khadijah. 
Aku tidak berjanji akan ada dirumah sebelum kamu pulang kerja, karena pekerjaanku
Tapi, aku akan memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri.
Aku tidak berjanji masakanku seenak masakan ibumu,
Tapi yakinlah, masakan itu akan selalu membuatmu merindukanku disaat aku jauh karena pekerjaanku.
Aku akan menjadi istri yang baik untukmu, sebagaimana aku akan menjadi dokter yang baik untuk pasien pasienku.
Pahamilah, terkadang tengah malam disaat kamu sedang asyik beristirahat karena hari hari terlalu melelahkan kamu harus mengantarkanku ke rumah sakit untuk memenuhi sumpah profesiku.
Dan lakukanlah itu dengan penuh cinta. 

Untukmu yang kelak akan menyenandungkan azan ditelinga seorang anak yang keluar dari rahimku
Ingatlah, dia akan memanggilmu "ayah" dan kamu bisa jadi cinta pertamanya atau superhero kebanggaannya.
Maka genggamlah tangan mungilnya, berjanjilah kamu akan mengajarkannya banyak hal yang harus dia ketahui. Dan berjanjilah padaku, kau akan menyayangi dan menjaganya disaat orang diluar sana membutuhkanku dan aku harus merelakan moment untuk melihat langkah pertamanya. 
Berjanjilah kau akan mengatakan aku sangat menyayanginya.

Untukmu, yang kelak akan memberiku gelar "istri-ku"
Mungkin menikahiku bukanlah hal yang mudah bagimu 
Mungkin menikahiku berarti kau harus menikahi segala ego dan kurangku
Menikahiku berarti kau mengambil segala resiko memilik seorang istri yang bergelar dokter.
Menikahiku yang berarti kau bersedia menyayangiku seperti kamu menyayangi ibumu.

Tapi,
Percayalah, menikahiku berarti aku pun akan selalu menggenggam tanganmu bahkan disaat tersulit hidupmu kelak.

Tertanda,
Aku
















Catatan seorang gadis yang akan memasuki angka 24 :)