Senin, 24 Juni 2013

kisah tentang 'Slimming suit kozuii'

siaran tv menampilkan iklan yang sama berulang-ulang, papa sibuk di depan komputer. sibuk.
aku pun sibuk mengerjakan pr. bunda pun yang baru pulang kerja sibuk, sibuk membersihkan diri dan memperhatikan diri didepan kaca.

akhir-akhir ini Bunda sering mengeluhkan tubuh yang katanya 'gendut', mulai 'tidak kencang' seperti waktu muda.
seperti yang pernah aku baca di internet, usia Bunda sekarang, mulai memasuki usia tidak percaya diri.
sedangkan aku dan Papa yang biasanya menjadi pendengar keluhan Bunda tentang 'penampilan' hanya duduk diam. tidak berkomentar. tepatnya, takut berkomentar.

selang berapa hari kemudian, siang itu..
aku yang baru pulang sekolah disambut oleh tukang pos di depan pagar rumah yang membawa paket.
tertulis :

ir.H.Mustofa Kamal,M.Sc.
jl. Bank Raya No.20
Palembang- Sumatera Selatan.

sebuah kotak yang tidak terlalu besar. setelah tanda tangan tanda terima, aku meletakkan bingkisan itu di atas meja kerja Papa.

***
sehabis sholat magrib berjamaah, hal yang wajib buat kami semua ngumpul di ruang tengah. biasanya sekedar buat nonton tv bareng. Papa duduk disebelah Bunda dengan wajah sumringah, membawa bingkisan dari tukang pos yang diantar tadi siang. 


" Buat Bunda, supaya langsing lagi." ujar Papa.
kami semua menahan tawa. Bunda terdiam. 
" Ngapain pa beli ini, kan mahal. mending dibeliin apa gitu." kata Bunda.
Papa hanya tetap tertawa walaupun kayanya saat itu Bunda ngambek. entah karena malu atau karena memang harga barang ini saat itu benar benar masih mahal.

tapi yang pasti, benda ini selalu di pake Bunda sampe sekarang.

saya dan kakak saya yang menemukan kotak ini dilemari almarhum pagi ini, baru saja menyadari. Bahwa ini salah satu hal ter-romantis yang pernah beliau lakukan.
mungkin buat beliau, tubuh istrinya waktu itu yang katanya 'gendut' dan 'tidak kencang' bukanlah hal yang harus dikhawatirkan, bukan masalah buat beliau. Tapi, melihat istrinya khwatir, sedih. itu masalahnya.
Dan hadiah ini, obat untuk kesedihan istrinya. Subhanalloh :')

How do I not miss you when you are gone, Pap?

tertanda,
Aku.

Sabtu, 22 Juni 2013

Papa atau lebih sering saya panggil PAP

Agustus 2012..

disebuah mobil inova silver. saya duduk di bangku kiri, sibuk memperhatikan jalan Palembang yang padat dan banyak berubah.

" kamu ikut organisasi apa di kampus dek?" tanya beliau seketika.
saya sempat terdiam beberapa detik, ini percakpan yang paling saya hindari. karena ada sesuatu yang saya sembunyikan rapat rapat dari beliau.

" senat mahasiswa, Pap." jawab saya singkat tetap memperhatikan keluar jendela.

" ooo itu tingkat fakultas ya? kamu dibagian apa?" tanya beliau lagi.
saya menelan ludah.

" tahun kemaren sih di Pengabdian Masyarakat." jawab saya lagi singkat, menghindari berbohong ke beliau.

" kalo sekarang?"

kali ini saya benar benar dititik akhir. pertanyaan yang tepat sasaran.
" sekarang...... (menarik nafas panjang) adek, ketua senatnya,Pap." jawab saya kemudian. menunduk menunggu murka beliau.

" kamu???? HEBAAT (tertawa) ketuanya cewek? anak pap?" dengan wajah sumringah beliau menerima berita ini.
diluar dugaan saya. iya reaksi beliau diluar dugaan saya.

***

masih dibulan Agustus 2012...
kali ini didalam mobil inova silver ini, tidak hanya kami berdua ditambah kakak perempuan saya dan bunda.

" nanti pas adek wisuda, foto foto masa kecilnya dikumpulin. kita buat film, terus diputerin deh pas wisuda." Kata Pap tiba tiba.

" iya.. iya foto yang lucu lucu itu." bunda menimpali.

" kenapa pas wisuda, Pa? pas akad nikah adek aja." saran kakak perempuan saya. saat itu saya yang jadi bahan pembicaraan hanya diam, pasrah dijadikan bahan.

terekam jelas diingatan saya, Papa sempat diam beberapa menit, lalu menimpali, " jangan.. jangan pas akad nikah. takut usia papa ga nyampe. pas wisuda aja." ujar beliau.

entah mengapa, sore itu saya marah sekali. beliau membuat saya takut.
" udahanlah.. pada ngomongin apa ini." ujar saya.
seisi mobil hening. mungkin sedang bermain dengan pikiran masing-masing.

***
20 Juni 2013.

pernah ikut renungan suci? dimana biasanya pembicara menampilkan scene dimana ketika kita sampai dirumah, tanpa sepengetahuan kita ada bendera kuning didepan rumah. ketika kita mulai melangkah masuk ke rumah, tubuh orang tua kita terbujur kaku ditengah ruangan, dingin, sudah diselimuti kain, disekitarnya orang orang membacakan surat yasin. Dan biasanya ketika scene ini diceritakan pembicara, kita mulai menangis histeris karena kita ikut membayangkan bagaimana ketika scene ini menjadi nyata.

kurang lebih itu yang saya rasakan hari ini. ketika turun dari taksi, saya dan kakak kakak saya disambut beberapa orang dengan mata sembab, memeluk kami bergantian, mengucapkan belasungkawa.
otak saya masih berusaha mencerna saat itu, sulit sekali dipahami apa yang orang orang ini bicarakan.
saya mengiring dibelakang kakak kakak saya yang berlari kecil menuju kedalam rumah. Bunda. iya, yang mereka cari Bunda.

telapak tangan saya dingin, sekujur tubuh saya kaku, ditengah ruangan Pap terbaring kaku. engga.. beliau engga bergerak sama sekali. 
padahal biasanya beliau yang paling antusias menyambut didepan pintu ketika kami pulang. tapi malam ini, ketika saya pulang, saya disambut oleh orang lain yang memeluk saya mengiring saya kedepan Bunda. dan setelahnya saya hanya ingat, saya hanya menangis tertahan dipangkuan bunda saya.

ir. H. Mustofa Kamal,M.Sc


tubuh beliau dingin, kaku, wajah beliau tenang, tersenyum. Beliau terlihat lebih tampan dari yang saya ingat.

Pap itu ... cinta pertama saya sebagai seorang anak perempuan.
Pap itu ... cerdas, teman berdebat yang hebat.
Pap itu ... guru spiritual pribadi yang handal.
Pap itu ... Partner in crime yang solid, selalu senyum melihat kenakalan kenakalan kami, tapi tetap menasihati diakhir.
Pap itu ... yang selalu nganterin adek kemanapun itu. daftar SMP, test masuk SMP, test masuk SMA, bahkan sampe daftar masuk kuliah. nganterin adek ke mal untuk jalan sama temen, nganterin adek yang diem diem ikut test PASKIBRAKA dan harus berangkat pagi pagi saat test. dan Pap ga pernah ngeluh sedikir pun.

semoga Allah memberi tempat terbaik disisiNya buat Pap. Supaya Pap bisa tetap ngeliat adek, Bunda dan kakak kakak dari sana.
adek sayang Pap, tapi Alloh lebih sayang Pap. we always love you, Pap.

01 Januari 1947 - 20 Juni 2013

tertanda,
Aku



Rabu, 05 Juni 2013

Empty

Tried to take a picture of love.
Didn't think i'd miss him that much.
I want to fill this new frame, but its empty.

Tried to write a letter in ink.
Its been getting better, i think.
I got a piece if paper, but its empty.
Its empty

Maybe we're trying, trying too hard.
Maybe we're torn apart.
Maybe the timing, is beating our hearts.
We're empty.

Yes, its empty...