Kamis, 04 Oktober 2012

Biarkan perahu ini berlayar dan bermuara ketempat seharusnya dia bermuara



mungkin kita bisa menyebut ini pasrah.
atau anggap saja aku menyerah.

tak ada yang bisa membohongi sesuatu yang kita sebut hati.
tak ada yang bisa melawan sesuatu yang kita beri nama takdir.
dan tak ada yang bisa memahami semua ini.

kamu dan aku hanyalah seorang tokoh yang berusaha memerankan perannya masing-masing.
mengikuti alur cinta ini sampai pada ujungnya.

dan inilah sebagai akhir dari sebuah kisah.

menciptakan sebuah jarak yang terasa begitu jauh dan menyakitkan.
membangun sekat yang tak terlihat. menghilangkan semua yang ada.
inilah kerja sesuatu yang kita pahami sebagai takdir.

mungkin ini nantinya akan aku beri nama menyerah.
atau mungkin akan aku panggil pasrah.

biarkan perahu yang telah kehilangan kemudi ini menentukan arahnya.
menentukan kemana dia akan bermuara.
menentukan dimana dia akan berhenti.

jadi, biarkan perahu yang telah kehilangan kemudi ini bermuara ketempat dimana seharusnya dia bermuara.
ya.. biarkan perahu ini berlayar mengikuti arah aliran takdir akan membawanya.

aku titipkan kemudi perahu ini kepada takdir, karena ternyata aku mulai lelah untuk mengemudikannya sendiri dan melawan badai yang ada.

tertanda,
Aku.


Tahu Diri - Perahu Kertas -

Hai...
selamat bertemu lagi
Aku sudah lama menghindarimu
Sialku lah kau ada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernafas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini

Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati

Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi

Bye..
selamat berpisah lagi
Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Menghentikan segala khayalan gila
Jika kau ada dan ku cuma bisa
Meradang menjadi yang di sisimu
Membenci nasibku yang tak berubah

Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi

Berkali-kali kau berkata kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali ku telah berjanji menyerah

Dan upaya ku tahu diri tak selamanya berhasil
Dan upaya ku tahu diri tak selamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah
Pergilah, menghilang sajalah
Pergilah, menghilang sajalah lagi

Senin, 01 Oktober 2012

mari kembali beberapa langkah untuk langkah yang lebih jauh

malam ini..
percakapan singkat. entah sudah yang keberapa kali ini terjadi diantara kita setelah hari itu.
setelah percakapan percakapan panjang kita yang seperti tiada akhir.

kamu benar.
" kamu emang udah coba. dari intensitas memang udah berkurang. tapi, dari kualitas ga ada yang berubah. tetap nol."

kamu benar.
" kalo misalnya hati itu punya mata. ya berusahalah melihat. kalo misalnya hati itu punya telinga. berusahalah mendengar."

kamu benar lagi.
" kita sedang berbicara tentang masa ini. tidak berbicara masa nanti."

tapi...
seandainya kamu yang ada di posisi ini.
dengan segala upaya sudah kamu coba. mulai dari yang cukup menyakiti sampai yang benar-benar menyakiti.
dan kamu akhirnya menemukan jalan buntu. entah harus mencoba cara apa lagi. apakah kamu akan tetap berpendapat seperti itu?

iya kamu benar. kamu benar sekali. terima kasih.
mungkin tamparan lembut ini yang nantinya menjadi cambuk untuk aku terus berlari.
berlari. berlari dan berlari lagi meninggalkan semua yang sudah terlanjur kelam dan hitam.

terima kasih buat kamu yang disana.
yang telah memberi tamparan halus tapi membawa efek besar untuk nantinya :)

aku hanya bisa berbisik lembut agar relung hatiku yang masih kekeuh menyimpanmu turut mendengar instruksiku sebaik-baiknya.
" mari kita mundur selangkah. kita mulai dari awal semuanya hari ini, malam ini, jam ini, menit ini, detik ini. untuk beribu langkah nantinya."

tertanda,
AKU-