Jumat, 22 Maret 2013

Waktu

Berjalan begitu cepat
Merubah semua dengan begitu cepat juga
Seminggu kemarin, kamu masih di sini.. Masih menjadi alasan saya untuk tertawa, tersenyum.
Masih duduk disamping saya, ikut memperbaiki hati saya yang compang camping.

Seminggu kemarin, kita masih duduk bersebelah mengomentari apapun itu
Seperti pembicaraan ini tidak memiliki ujungnya, dan dalam waktu yang bersamaan saya pun berdoa agar pembicaraan ini memang takkan pernah menemui ujungnya.
Karena ketika percakapan ini berujung, rasa takut akan menguasai hati saya. Saya takut, waktu ini tidak akan pernah ada lagi.
Waktu ini akan lenyap dan tak bersisa.
Menyisakan luka dan saya hanya mengenang kamu dalam kepingan kenangan.
Hati saya meradang merasakan nyeri luar biasa dan hipocampus tetap melaksanakan tugasnya tak peduli apapun.
Saya takut, genggaman kamu akan mengendur sampai akhirnya hanya terasa sentuhan diujung jari saya, dan lama kelamaan benar benar menghilang.

Dan waktu,
Memang melaksanakan tugasnya dengan baik. Tepat.
Sesuai dengan apa yang telah tertulis di kitabullah.
Waktu merenggut kamu dengan sempurna, tanpa sisa.

Tertanda,
Aku.

Minggu, 17 Maret 2013

Lingkaran cosmic

Mendengarkan dan didengarkan. Mencintai dan dicintai. Menghargai dan dihargai.
Mempertahankan dan dipertahankan. Memberi dan diberi
Atau..
Menunggu tapi ditinggalkan. Menawarkan tapi ditolak. Menjaga tapi diabaikan.
Sebuah lingkaran cosmic yang biasa kita panggil kehidupan. Seperti jarum jam yang berjalan berdampingan atau berlawan arah. Dan terkadang bertemu pada satu titik, dalam per-second mereka berjalan saling meninggalkan dan menanti pertemuan selanjutnya.

Saya dan kamu.
'kita' salah satu komponen dalam lingkaran cosmic ini.
Menikmati setiap perjalanannya. Dan pada satu titik, kita saling menemukan. Tapi sepersekian detik berjalan saling meninggalkan.
Apakah kamu seperti saya, menunggu titik selanjutnya tempat dimana mungkin kita akan dipertemukan??

Ataukan mungkin, kamu sedang menunggu pertemuan selanjutnya, dengan komponen lain di lingkaran ini?? Tapi, bukan saya.

Saya berdoa kamu adalah tempat saya akan selalu kembali. Entah harus berapa lapisan lingkaran cosmic ini yang harus saya langkahi untuk menemukan titik dimana saya kembali ke kamu.
Peta yang saya punya hanyalah sebuah kepercayaan. Bekal yang saya bawa hanya doa dan kesabaran. Dan itu semua saya pinjam dari Tuhan.
Dan satu satunya alamat yang saya punya, hanya nama kamu.
Nama kamu yang saya sisipkan dalam setiap lantunan harapan saya kepada Tuhan. Ekspetasi saya hanya sebatas 'semoga dititik selanjutnya, yang saya temukan tetap kamu sang mata indah. Dan Tuhan memang mengirimkan kamu sebagai yang terbaik.'

Tapi..
Akankah kamu menginginkan hal yang sama? Dititik selanjutnya, akankah kamu ingin tetap menemui saya sebagai takdir kamu?

*menghela nafas*
seandainya, realistis dan kenyataan tidak semenyakitkan ini ya. Seandainya misteri takdir tidak se-menggemaskan ini.

Sudahlah, biarkan tangan Tuhan yang bermain.
Apa yang dilingkaran ini tak akan ada yang luput dari lirikan Nya bukan? Kamu percaya itu kan?
Dan satu satunya anak kunci yang kita punya hanya doa bukan? Berharap Dia mau berbaik hati untuk mendengarkan rayuan kita tentang titik selanjutnya.

Kamu tau,
Tampaknya.. Saya akan tetap memilih menunggu kamu di titik selanjutnya. :)

Tertanda,
Aku.