Pagi ini kejenuhan saya yang terlelap selama 12 jam karena flu yang semakin parah dan akhir saya takluk dengan 'NOZA' 4 kaplet obat flu membawa saya berkunjung ke salah satu sosial media yang saya punya.
Dan...
Ini yang saya temukan pagi ini.
1 rasa..
Yang saya yakin, hampir dari setiap kita pernah merasakannya.
Tapi masing masing kita yang merasakan, memiliki presepsi yang berbeda dari rasa ini.
Kangen itu...
Satu, tapi memiliki sejuta rasa ketika kamu mengecapnya.
Manis, pahit, sakit, 'flat', dan berbagai macam lainnya.
Kangen itu...
Sensasi yang menyerupai 1 koin dengan 2 sisi.
Mengasyikan di satu sisi tapi menyakitkan di sisi lain.
Kangen itu...
Sesuatu yang ada karena kamu memendam sesuatu, untuk seseorang.
Kangen itu...
Ketika kamu mendengarkan sebuah lagu, membawa ke dimensi lain.
Memutar semua kenangan yang kamu punya tentang dia.
Kangen itu...
suatu hasrat, disatu waktu terasa harus terpenuhi tapi di waktu yang lain terasa lebih baik di simpan.
Kangen itu...
rasa...
*terima kasih kak Muti dan Teteh Mardi buat postingnya yang waah :')*
tertanda,
Aku.
Sabtu, 27 April 2013
Senin, 22 April 2013
Dua puluh satu april untuk 21 tahun
Halo...
Selamat hari tua untuk saya sendiri..
Yap. Ini harinya. Ini hari dimana ibunda saya yang sudah menahan beban berat di rahimnya melahirkan saya yang seberat 4,3 kilogram 21 tahun yang lalu.
Banyak doa. Harapan. Dukungan dari orang orang yang saya sayangi dan menyayangi saya.
Ini sudah lebih dari cukup. Karena dari awal, untuk hari ini saya tidak berekspetasi yang tinggi. Tidak memimpikan didampingi seseorang untuk hari spesial ini. Tidak memimpikan 21 tahun yang meriah.
Dan doa yang terlantun sudah lebih dari cukup untuk saya.
Oiya, ini deadline buat saya tentang perasaan saya. Setidaknya mulai hari ini saya harus berusaha keras dengan saya sendiri.
Saya tau kamu tidak akan pernah membaca ini. Dengan penuh keyakinan saya yakini kamu tidak akan pernah membaca ini.
Tapi... Saya ingin berterima kasih untuk kamu.
Terima kasih kepada Alloh yang mahaaa baiiik.
Benar benar baiik.
Dari sederetan doa, berharap resolusi 21 tahun saya semuanya tercapai yang saya tekankan.
Jodoh??
Engga. InshaaAlloh itu bukan fokus saya untuk setahun ini.
Biarkan hati saya beristirahat sejenak dari semua kegiatannya yang melelahkan.
Yaa setahun ini hati saya bekerja terlaluuuu keras, bahkan dia pun sampai terlalu bingung apa yang harus dia kerjakan lagi.
Jadi biarkan dia menikmati masa dormant nya. Seraya menunggu seseorang yang sengaja di persiapkan dan di simpan Alloh untuk di launching disaat yang tepat :)
Hhhhhh
Tidak bisa dipungkiri. Sampai menulis ini pun, masih terasa sensasi kesakitan yang masih terlalu nyata.
Jangankan untuk melihat, meliriknya saja saya rasa saya belum terlalu kuat.
Tapi, suatu hari. Saya berjanji..
Saya akan menghampiri ruangan itu. Harus.
Untuk membersihkan, merapikan, mengembalikan semuanya.
Saya berjanji...
Ketika suatu hari saya bertemu kamu...
Tidak akan ada lagi emosi yang terlibat. Semuanya akan mengalir begitu saja.
Saya akan tersenyum tulus. Begitupun kamu. Ya? :)
Sekarang pertama tama yang harus saya lakukan,
Saya harus pemanasan, lalu mulai berlari lagi melawan arus.
Karena mengikuti arus membuat saya terlihat terlalu lemah.
Selamat ulang tahun mutiara kesuma ningrum.
Kamu kuat! Lebih dari yang kamu sendiri dan mereka tau.
Welcome to the jungle dear :)
Tertanda,
Aku.
Selamat hari tua untuk saya sendiri..
Yap. Ini harinya. Ini hari dimana ibunda saya yang sudah menahan beban berat di rahimnya melahirkan saya yang seberat 4,3 kilogram 21 tahun yang lalu.
Banyak doa. Harapan. Dukungan dari orang orang yang saya sayangi dan menyayangi saya.
Ini sudah lebih dari cukup. Karena dari awal, untuk hari ini saya tidak berekspetasi yang tinggi. Tidak memimpikan didampingi seseorang untuk hari spesial ini. Tidak memimpikan 21 tahun yang meriah.
Dan doa yang terlantun sudah lebih dari cukup untuk saya.
Oiya, ini deadline buat saya tentang perasaan saya. Setidaknya mulai hari ini saya harus berusaha keras dengan saya sendiri.
Saya tau kamu tidak akan pernah membaca ini. Dengan penuh keyakinan saya yakini kamu tidak akan pernah membaca ini.
Tapi... Saya ingin berterima kasih untuk kamu.
Terima kasih kepada Alloh yang mahaaa baiiik.
Benar benar baiik.
Dari sederetan doa, berharap resolusi 21 tahun saya semuanya tercapai yang saya tekankan.
Jodoh??
Engga. InshaaAlloh itu bukan fokus saya untuk setahun ini.
Biarkan hati saya beristirahat sejenak dari semua kegiatannya yang melelahkan.
Yaa setahun ini hati saya bekerja terlaluuuu keras, bahkan dia pun sampai terlalu bingung apa yang harus dia kerjakan lagi.
Jadi biarkan dia menikmati masa dormant nya. Seraya menunggu seseorang yang sengaja di persiapkan dan di simpan Alloh untuk di launching disaat yang tepat :)
Hhhhhh
Tidak bisa dipungkiri. Sampai menulis ini pun, masih terasa sensasi kesakitan yang masih terlalu nyata.
Jangankan untuk melihat, meliriknya saja saya rasa saya belum terlalu kuat.
Tapi, suatu hari. Saya berjanji..
Saya akan menghampiri ruangan itu. Harus.
Untuk membersihkan, merapikan, mengembalikan semuanya.
Saya berjanji...
Ketika suatu hari saya bertemu kamu...
Tidak akan ada lagi emosi yang terlibat. Semuanya akan mengalir begitu saja.
Saya akan tersenyum tulus. Begitupun kamu. Ya? :)
Sekarang pertama tama yang harus saya lakukan,
Saya harus pemanasan, lalu mulai berlari lagi melawan arus.
Karena mengikuti arus membuat saya terlihat terlalu lemah.
Selamat ulang tahun mutiara kesuma ningrum.
Kamu kuat! Lebih dari yang kamu sendiri dan mereka tau.
Welcome to the jungle dear :)
Tertanda,
Aku.
Jumat, 12 April 2013
Sebuah nama
...
...
...
...
....................., muti K N, ................... , ...................
Saya sempat terdiam beberapa menit. Mencoba mencerna kata kata lawan bicara saya sore ini.
Tersenyum tipis.
' emang iya? Bohong.' Hanya kata itu yang bisa dihasilkan dari beberapa menit saya terdiam.
Yang mampu pita suara saya keluarkan.
Lawan bicara saya menyerahkan sesuatu. Seraya tersenyum. Seolah olah berkata ' ini buktinya '
Ada satu nama disederetan nama lainnya.
Tidak asing, nama ini familiar sekali.
Otak saya agak lama mencerna tampaknya sore ini.
Selanjutnya saya menyadari.
Itu.... Iya.... Itu nama saya :)
Saya terpaku. Ada desiran di dalam dada saya. Saya tersenyum lagi. Syukur melantun pelan dari hati saya.
' mau di simpen ? Di foto mungkin ? ' lawan bicara saya menawarkan dengan senyum jahil.
Saya hanya menggeleng seraya tersenyum. Menyerahkan kembali benda yang saya pegang untuk kembali dia simpan di dalam tasnya.
Satu yang pasti yang terjadi sepanjang sore ini.
Desiran nyata sebagai tanda syukur.
Saya sempat menggenggam sesuatu yang berharga. Benda itu nyata di kulit saya. Akhirnya :')
Terima kasih untuk kamu :)
Tertanda,
Aku.
...
...
...
....................., muti K N, ................... , ...................
Saya sempat terdiam beberapa menit. Mencoba mencerna kata kata lawan bicara saya sore ini.
Tersenyum tipis.
' emang iya? Bohong.' Hanya kata itu yang bisa dihasilkan dari beberapa menit saya terdiam.
Yang mampu pita suara saya keluarkan.
Lawan bicara saya menyerahkan sesuatu. Seraya tersenyum. Seolah olah berkata ' ini buktinya '
Ada satu nama disederetan nama lainnya.
Tidak asing, nama ini familiar sekali.
Otak saya agak lama mencerna tampaknya sore ini.
Selanjutnya saya menyadari.
Itu.... Iya.... Itu nama saya :)
Saya terpaku. Ada desiran di dalam dada saya. Saya tersenyum lagi. Syukur melantun pelan dari hati saya.
' mau di simpen ? Di foto mungkin ? ' lawan bicara saya menawarkan dengan senyum jahil.
Saya hanya menggeleng seraya tersenyum. Menyerahkan kembali benda yang saya pegang untuk kembali dia simpan di dalam tasnya.
Satu yang pasti yang terjadi sepanjang sore ini.
Desiran nyata sebagai tanda syukur.
Saya sempat menggenggam sesuatu yang berharga. Benda itu nyata di kulit saya. Akhirnya :')
Terima kasih untuk kamu :)
Tertanda,
Aku.
Kamis, 11 April 2013
Bias dalam biasa
Teruntuk kamu...
Yang beberapa hari ini berhasil membuat hati saya berdesir disertai sensasi tusukan pelan, yang semakin lama semakin dalam.
Menciptakan nyeri yang tak terbantahkan.
Yang beberapa hari ini kembali saya temukan sosoknya di tengah kerumunan banyak orang yang ada.
Memusnahkan rasa rindu dan pertahanan hati yang ada dalam satu waktu.
Teruntuk kamu...
Yang beberapa hari ini melukis bias didalam hati saya ketika saya meyakinkan semuanya biasa. Ketika saya sedang berusaha keras meyakini diri saya sendiri, bahwa saya baik baik saja.
Teruntuk kamu...
Yang hatinya berusaha saya jaga dengan amat sangat, entah karena alasan apa.
Yang pernah menunjukkan kepada saya, bahwa 'semesta ini ajaib dan jahil' dalam satu waktu.
Teruntuk kamu...
Yang beberapa bulan terakhir merubah isi rayuan saya kepada Tuhan.
Semua tentang kamu.
Yang coba saya sembunyikan, tapi takdir selalu nakal mengorek apa yang tersembunyi.
Semua ini tentang sesuatu yang semua orang agungkan.
Mudah terucap tapi teramat sulit untuk di genggam apalagi dipeluk untuk selalu terjaga.
Semua ini tentang cinta.
Semua ini tentang komitmen yang pernah terucap.
Tapi tak ada satu pun didalam semua ini tentang tuntutan pertanggungjawaban untuk apa apa yang telah terlanjur terucap.
Semua ini hanyalah tentang rasa bias yang luar biasa, tersembunyi rapi dalam kata 'biasa aja' yang terucap dalam percakapan monolog terhadap diri sendiri.
Tertanda,
Aku.
Yang beberapa hari ini berhasil membuat hati saya berdesir disertai sensasi tusukan pelan, yang semakin lama semakin dalam.
Menciptakan nyeri yang tak terbantahkan.
Yang beberapa hari ini kembali saya temukan sosoknya di tengah kerumunan banyak orang yang ada.
Memusnahkan rasa rindu dan pertahanan hati yang ada dalam satu waktu.
Teruntuk kamu...
Yang beberapa hari ini melukis bias didalam hati saya ketika saya meyakinkan semuanya biasa. Ketika saya sedang berusaha keras meyakini diri saya sendiri, bahwa saya baik baik saja.
Teruntuk kamu...
Yang hatinya berusaha saya jaga dengan amat sangat, entah karena alasan apa.
Yang pernah menunjukkan kepada saya, bahwa 'semesta ini ajaib dan jahil' dalam satu waktu.
Teruntuk kamu...
Yang beberapa bulan terakhir merubah isi rayuan saya kepada Tuhan.
Semua tentang kamu.
Yang coba saya sembunyikan, tapi takdir selalu nakal mengorek apa yang tersembunyi.
Semua ini tentang sesuatu yang semua orang agungkan.
Mudah terucap tapi teramat sulit untuk di genggam apalagi dipeluk untuk selalu terjaga.
Semua ini tentang cinta.
Semua ini tentang komitmen yang pernah terucap.
Tapi tak ada satu pun didalam semua ini tentang tuntutan pertanggungjawaban untuk apa apa yang telah terlanjur terucap.
Semua ini hanyalah tentang rasa bias yang luar biasa, tersembunyi rapi dalam kata 'biasa aja' yang terucap dalam percakapan monolog terhadap diri sendiri.
Tertanda,
Aku.
Rabu, 03 April 2013
Menerka rasa
" jangan menerka nerka perasaan kamu sendiri. Bisa celaka kamu."
Bentuk perhatian dari seorang sahabat.
Ini kebiasaan buruk saya memang. Menerka rasa.
Saya menguntai tanya setiap saya mencoba untuk menerka perasaan saya sendiri.
Dia begitu gelap, hitam, tak terjamah kadang.
Bahkan oleh saya yang empunya.
Ini alasan nyata mengapa saya menerka dia.
Berusaha mengerti maunya agar sakit yang ada tak terasa begitu nyeri.
Iya, saya memang pengecut.
Saya takut nyeri yang ada terlalu menyiksa hati saya.
Otak saya pun angkat tangan untuk berlogika, dia tidak bisa menghentikan aliran nyeri ke pusatnya.
Alhasil, saya meradang.
Dia begitu misterius, menggemaskan kadang.
Terlalu nyaman bersembunyi, tapi dalam diam juga menghasilkan luka yang besar.
' lihat bagaimana saya bisa mengabaikan ini semua, tanpa saya melakukan apa apa. Minimal ya menerka, supaya saya bisa bersiap dengan segala kemungkinan yang ada. '
Ini memang sebuah pembelaan nyata dari saya.
Tapi tentu saja otak saya tidak sepakat dengan pembelaan ini.
Dia membelot. Tak mau patuh dengan hati maupun saya yang empunya.
Jadilah dia berkelana entah kemana, asal tidak menelik rasa yang ada sekarang.
Dia berusaha melindungi. Karena terkadang terlalu peduli mengakibatkan kesakitan yang berlebih.
Dia berusaha memutarkan rekaman yang ada, sebagai alasan nyata ' kenapa harus berhenti disini.'
Dan saya. Hanya terdiam. Membisu menyaksikan pertengkaran hati dan otak saya.
Mereka tidak akur seperti biasanya.
Hati saya terlalu perempuan, dan otak saya terlalu ingin menjadi laki-laki.
Tertanda,
Aku.
Bentuk perhatian dari seorang sahabat.
Ini kebiasaan buruk saya memang. Menerka rasa.
Saya menguntai tanya setiap saya mencoba untuk menerka perasaan saya sendiri.
Dia begitu gelap, hitam, tak terjamah kadang.
Bahkan oleh saya yang empunya.
Ini alasan nyata mengapa saya menerka dia.
Berusaha mengerti maunya agar sakit yang ada tak terasa begitu nyeri.
Iya, saya memang pengecut.
Saya takut nyeri yang ada terlalu menyiksa hati saya.
Otak saya pun angkat tangan untuk berlogika, dia tidak bisa menghentikan aliran nyeri ke pusatnya.
Alhasil, saya meradang.
Dia begitu misterius, menggemaskan kadang.
Terlalu nyaman bersembunyi, tapi dalam diam juga menghasilkan luka yang besar.
' lihat bagaimana saya bisa mengabaikan ini semua, tanpa saya melakukan apa apa. Minimal ya menerka, supaya saya bisa bersiap dengan segala kemungkinan yang ada. '
Ini memang sebuah pembelaan nyata dari saya.
Tapi tentu saja otak saya tidak sepakat dengan pembelaan ini.
Dia membelot. Tak mau patuh dengan hati maupun saya yang empunya.
Jadilah dia berkelana entah kemana, asal tidak menelik rasa yang ada sekarang.
Dia berusaha melindungi. Karena terkadang terlalu peduli mengakibatkan kesakitan yang berlebih.
Dia berusaha memutarkan rekaman yang ada, sebagai alasan nyata ' kenapa harus berhenti disini.'
Dan saya. Hanya terdiam. Membisu menyaksikan pertengkaran hati dan otak saya.
Mereka tidak akur seperti biasanya.
Hati saya terlalu perempuan, dan otak saya terlalu ingin menjadi laki-laki.
Tertanda,
Aku.
Langganan:
Komentar (Atom)


