Sabtu, 27 Juli 2013

FAMILY

Kumpulan ini terdiri dari partikel sederhana.
Dengan berbagai macam karakter, penuh dengan cerita dan sarat akan makna.
Udara cinta terasa kental.
Kasih sayang tergenang dimana mana.

Dimulai dari 2,5 tahun yang lalu.
Seseorang mahasiswi tengil, ingusan awalnya berpikir untuk mencari kesibukan. Karena kalo tidak sibuk dia akan merasa mati mungkin.
Dari sebuah keluarga kecil yang bernama PENGMAS.
Waktu berjalan. Si mahasiswi tengil mulai mencintai apa yang dia punya.
Dia tumbuh ditengah tengah keluarga yang begitu unik. Dia cintai dengan sangat dan mengajarinya banyak hal.

Setiap pertemuan pasti datang dengan perpisahan.
Mengorbankan rasa nyaman yang sudah terikat satu dan yang lain. Belum rela kehilangan setiap moment yang ada.
Tapi kami 'si adik kecil' harus bersiap siap menyambut 'adik-adik kecil yang baru.' Saya dan yang lain mulai tumbuh.

Terpilihnya saya sebagai seorang pemimpin. Terpisahnya saya dari keluarga kecil saya. Dan mengemban amanah atas 14 ' kepala keluarga ' lainnya.
Rasanya saya belum cukup pantas untuk tumbuh secepat ini. Saya belum siap kehilangan masa masa dimana saya tidak takut untuk berbuat salah.. Karena saya tau akan selalu ada kakak kakak yang membantu saya berdiri ketika jatuh, dan teman teman yang tetap merangkul sebesar apapu kesalahan saya.

Tapi sekarang dan setahun kedepan...
Saya lah yang membuat keputusan, bukan hanya untuk saya.. Untuk 120 orang.
Saya lah yang merangkul
Saya lah yang berdiri dibarisan paling depan
Saya lah si panglima perang untuk setahun kedepan.

Hati menggerutu, tidak ikhlas.
Tapi.. ' amanah tidak akan pernah salah memilih orang. '
Jadilah setahun ini saya jalani dengan berjuta rasa dan kenangan :)

Saya lahir dari sebuah keluarga maka saya pun menciptakan sebuah keluarga !!

Besar, kuat, hebat, terkait satu dan yang lainnya.
Tempat dimana saya selalu bisa kembali dengan semua kesalahan dan kekalahan sekalipun dan mereka akan tetap menerima saya dengan tangan terbuka.

Dan keluarga ini saya beri nama
" Generasi Sinergi "










Dan kalian akan selalu menjadi kenangan yang selalu indah, keluargaku :) 

Tertanda,
Aku. 

Rabu, 24 Juli 2013

Cinta

Sebuah kata dasar yang membentuk 2 makna konsep dasar.
Mencintai - dicintai.
Lebih dari sebuah panggilan sayang, atau sekedar teman ngobrol baik langsung atau hanya lewat media.
Bukan juga suatu hal yang sebatas hanya untuk bisa dan layak dipamerkan ke khalayak.
Atau yang memisahkan dunia aku-kamu dari dunia mereka.
Ini kebih dari itu semua kan??

Yaa setidaknya malam ini saya mulai memperhatikan konsep dasar ini, setelah kurang lebih sebulan ini saya biarkan dia membusuk disudut ruangan kepala dan hati saya.
Malam ini terlihat jelas. Konsep cinta ini begitu nyata dan sederhana tergantung bagaimana kita sebagai individu memandangnya.

Melihat teman teman saya yang berpasangan, menjalin sebuah hubungan yang sederhana tapi sarat akan makna.
Sama sama belajar memantaskan diri, saling berjuang untuk satu dan yang lainnya, dan sama sama belajar menerima kekurangan dan menghargai kelebihan masing masing.
Rasanya... Sekilas saya rindu merasakan hal yang seperti ini lagi ( ini malam pertama setelah hampir sebulan lebih hasrat ini terlempar begitu jauh ) 

Saya rindu ketika saya menatap seseorang dengan pandangan yang saya sendiri tidak bisa jelaskan dan gambarkan, atau sebaliknya dipandang dengan cara yang sama.
Ketika kemana pun saya pergi, saya akan membayangkan seandainya dia bersama saya ditempat itu, begitu pula sebaliknya.
Melakukan hal bodoh, konyol, memalukan dan akhirnya akan tertawa dan menangis bersama sama pula.
Terlintas iri di batin saya.

Tapi..
Lebih dari itu semua. 
Tidak ada orang yang ingin jatuh di lubang yang sama dua kali kan? 
Dan didalam kasus ini saya sudah jatuh dilubang yang sama dua kali, dan tidak ingin merasakan kesempatan untuk jatuh tiga atau empat kali :)
Cukup.
Saya ingin dia nantinya adalah persinggahan terakhir saya.
Ga muluk kan :) 

( disaat yang sama teruntai doa tulus untuk semua teman teman saya yang sekarang sedang menikmati rutinitas dicintai dan mencintai. Saya harap, suatu hari saya akan menerima sepucuk undangan dari kalian dengan senyum yang sumringah seraya membatin " akhirnya kalian nikah juga " :) )

Tertanda,
Aku.

Kamis, 11 Juli 2013

Sayap

" kematian itu adalah hal yang pasti. Dimana setiap kelahiran akan datang bersama kematian. Tapi, ketika berbicara tentang keimanan, tidak sebatas kita meyakini bahwa kematian itu akan datang menyapa kita, orang-orang yang kita sayangi atau orang orang sekitar kita. Keimanan itu tentang bagaimana sikap kita ketika hari itu datang. "

Sungguh..
Ini bukan tentang kesedihan yang melanda, meluluh lantakkan semua kekuatan ketika sebuah takdir yang tertulis merenggutmu secara tiba-tiba.
Ini juga bukan tentang betapa saya bagai kehilangan arah ketika melihat beliau terbaring kaku, dingin dan terkafani ditengah kerumunan orang yang menangis.
Ini juga bukan tentang betapa teriris irisnya hati saya ketika saya harus memandikan beliau dengan berlinangan air mata, berusaha berhenti tapi begitu sulit.

Bukan,
Ini semua bukan tentang itu.

Ini tentang..
Betapa beliau bagaikan bagian kata dalam setiap percakapan.
Betapa beliau bagaikan sayap yang membantu saya terbang cukup tinggi sampai 22 hari yang lalu.
Betapa beliau bagaikan setiap pegangan yang mengiringi setiap langkah dan selalu siap sedia saat saya kehilangan keseimbangan.
Betapa beliau amat lemah lembut, berkata dengan nada tinggi dengan tempo dan waktu yang tepat.
Betapa beliau menjadi tolak ukur untuk setiap laki-laki yang akan masuk kedalam kehidupan saya.

Yaa, ini tentang beliau..
Yang menjadi acuan saya untuk terus berlari karena beliau tidak pernah mengatakan 'tidak boleh'
Yang akan selalu tau ketika saya menangis dan bersedih, tidak berani menanyakan 'kenapa?' Ataupun datang menghibur tapi akan selalu meminta kakak-kakak saya untuk melakukannya untuk beliau. Karena beliau adalah orang yang kaku, tidak pandai berkata kata.
Yang saya mimpikan suatu hari akan sangat merasa tegang dan khawatir ketika harus menjabat tangan seorang laki-laki yang akan mengucap ijab qobul untuk meminta saya, putri terakhirnya.
Dan tentang beliau yang mungkin akan sangat tersenyum bangga ketika putri kecilnya menyandang gelar 'dokter' didepan namanya.

Tentang beliau yang ketiadaannya saya ikhlaskan, rindukan, doakan dan tangisi dalam waktu yang bersamaan.
Tentang beliau yang ketiadaannya membuat saya bagai terbang begitu landai karena terbang dengan satu sayap.
Tentang beliau dan semua kenangan yang beliau tinggalkan.
Tentang beliau yang kami cintai dengan begitu sangat.
Tentang Pap.

Tertanda,
Aku.