Minggu, 08 Desember 2013

Hey adhitya !

Terimakasih telah menjadi 'pasti' diantara semua kemungkinan kemungkinan yang tidak pasti.
Telah menjadi 'nyata' diantara semua mimpi.
Tetap menggenggam disaat yang lain melepaskan.
Tetap tinggal saat yang lain pergi.
Tetap mendengar disaat yang lain menghindar.
Tetap menatap saat yang lain memilih untuk terlelap.

Tertanda,
Aku

Senin, 18 November 2013

Satu


" Kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan " - pilihanku, maliq & D'essentials - 
😊



Jumat, 08 November 2013

Di penghujung doa


" kamu bagaikan 'aamiin' dipenghujung doa. " @falla_adinda

:) 

Tertanda,
Aku. 




Senin, 23 September 2013

Worth waiting

Jumat, 20 September 2013

Dimulai dari sebuah percakapan


perasaan yang rumit ini malah mungkin dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.
dari untaian untaian kata, yang bersulam menjadi sebuah kalimat yang kaya akan makna.
awalnya, ini hanyalah sebuah rutinitas.
layaknya kita hanya mahluk sosial yang tidak dapat diam terlalu lama.

aku mengenalmu cukup lama.
tak pernah terbesit akan adanya perasaan yang sedemikian rumit ini.
hanya berawal dari satu kata 'Hai'.
terus bergulir mencetak sebuah cerita yang belum menemuin kata 'sampai nanti.' layaknya kodon stop dalam suatu replikasi DNA.

bisakah kita akhiri saja perasaan rumit yang aku rasakan saat ini, sesederhana kita memulainya?
sesederhana mengucapkan 'selamat tinggal' dalam setiap akhir pertemuan lalu berjalan seperti awalnya sebelum semua ini ada.
sesederhana daun yang jatuh, karena memang waktunya untuk jatuh.

namun, senyummu dalam setiap percakapan memang bukan hal yang sederhana untuk diabaikan.
detak jantung yang berdegup tak terkendali saat bersamamu memang tidak sederhana untuk tidak diperdulikan.
bahkan untuk menghentikan rasa yang mulai tercipta sekarang tidak sesederhana seperti awalnya kita mengucapkan 'Hai'.

tertanda,
Aku.

Rabu, 04 September 2013

Pain(s)

" try to be logic, that love can't be exist without pain(s) "  - aulia fahmi maulana -

Hampir 6 bulan memasuki masa dormant.

Sakit? Engga.

Kosong? Ya.

Sedih? Engga.

Baik baik aja? Lebih baik.

Udah siap buat membuka? Hmmm.....

Takut? Maybe.

Galau? ENGGA SAMA SEKALI.

Mungkin ya, saya hanya takut. Ketakutan yang tidak memiliki dasar.
Tentang rasa sakit.

Harusnya saya bersyukur saya masih dapat merasa sakit ( sepertinya ), itu tandanya bagian saraf saraf saya berfungsi dengan sangat baik.

Tapi..
" our scars have a way to remind us that the past is real. "  - film Red Dragon -

Coba bagaimana bisa dengan luka yang senyata ini saya bergeming ketika orang lain menyebutkan nama kamu. Sedetik, dua detik bahkan sampai detik ke 30.
Selanjutnya saya cepat cepat meletakkan semua pada tempatnya semula.

Belum bisa move on? Sepenuhnya sudah.

Jadi? Entahlah. Hanya mungkin, nama kamu mulai terdengar asing. Masa lalu mulai mengabur. Seperti kamu bukan bagiannya.

" bagaimana bisa 2 orang yang berada dalam masa lalu yang sama terasa begitu asing. " @mutia_kn

- lembaran penuh tanya tanpa jawab.-

Tertanda,
Aku.


Sabtu, 27 Juli 2013

FAMILY

Kumpulan ini terdiri dari partikel sederhana.
Dengan berbagai macam karakter, penuh dengan cerita dan sarat akan makna.
Udara cinta terasa kental.
Kasih sayang tergenang dimana mana.

Dimulai dari 2,5 tahun yang lalu.
Seseorang mahasiswi tengil, ingusan awalnya berpikir untuk mencari kesibukan. Karena kalo tidak sibuk dia akan merasa mati mungkin.
Dari sebuah keluarga kecil yang bernama PENGMAS.
Waktu berjalan. Si mahasiswi tengil mulai mencintai apa yang dia punya.
Dia tumbuh ditengah tengah keluarga yang begitu unik. Dia cintai dengan sangat dan mengajarinya banyak hal.

Setiap pertemuan pasti datang dengan perpisahan.
Mengorbankan rasa nyaman yang sudah terikat satu dan yang lain. Belum rela kehilangan setiap moment yang ada.
Tapi kami 'si adik kecil' harus bersiap siap menyambut 'adik-adik kecil yang baru.' Saya dan yang lain mulai tumbuh.

Terpilihnya saya sebagai seorang pemimpin. Terpisahnya saya dari keluarga kecil saya. Dan mengemban amanah atas 14 ' kepala keluarga ' lainnya.
Rasanya saya belum cukup pantas untuk tumbuh secepat ini. Saya belum siap kehilangan masa masa dimana saya tidak takut untuk berbuat salah.. Karena saya tau akan selalu ada kakak kakak yang membantu saya berdiri ketika jatuh, dan teman teman yang tetap merangkul sebesar apapu kesalahan saya.

Tapi sekarang dan setahun kedepan...
Saya lah yang membuat keputusan, bukan hanya untuk saya.. Untuk 120 orang.
Saya lah yang merangkul
Saya lah yang berdiri dibarisan paling depan
Saya lah si panglima perang untuk setahun kedepan.

Hati menggerutu, tidak ikhlas.
Tapi.. ' amanah tidak akan pernah salah memilih orang. '
Jadilah setahun ini saya jalani dengan berjuta rasa dan kenangan :)

Saya lahir dari sebuah keluarga maka saya pun menciptakan sebuah keluarga !!

Besar, kuat, hebat, terkait satu dan yang lainnya.
Tempat dimana saya selalu bisa kembali dengan semua kesalahan dan kekalahan sekalipun dan mereka akan tetap menerima saya dengan tangan terbuka.

Dan keluarga ini saya beri nama
" Generasi Sinergi "










Dan kalian akan selalu menjadi kenangan yang selalu indah, keluargaku :) 

Tertanda,
Aku. 

Rabu, 24 Juli 2013

Cinta

Sebuah kata dasar yang membentuk 2 makna konsep dasar.
Mencintai - dicintai.
Lebih dari sebuah panggilan sayang, atau sekedar teman ngobrol baik langsung atau hanya lewat media.
Bukan juga suatu hal yang sebatas hanya untuk bisa dan layak dipamerkan ke khalayak.
Atau yang memisahkan dunia aku-kamu dari dunia mereka.
Ini kebih dari itu semua kan??

Yaa setidaknya malam ini saya mulai memperhatikan konsep dasar ini, setelah kurang lebih sebulan ini saya biarkan dia membusuk disudut ruangan kepala dan hati saya.
Malam ini terlihat jelas. Konsep cinta ini begitu nyata dan sederhana tergantung bagaimana kita sebagai individu memandangnya.

Melihat teman teman saya yang berpasangan, menjalin sebuah hubungan yang sederhana tapi sarat akan makna.
Sama sama belajar memantaskan diri, saling berjuang untuk satu dan yang lainnya, dan sama sama belajar menerima kekurangan dan menghargai kelebihan masing masing.
Rasanya... Sekilas saya rindu merasakan hal yang seperti ini lagi ( ini malam pertama setelah hampir sebulan lebih hasrat ini terlempar begitu jauh ) 

Saya rindu ketika saya menatap seseorang dengan pandangan yang saya sendiri tidak bisa jelaskan dan gambarkan, atau sebaliknya dipandang dengan cara yang sama.
Ketika kemana pun saya pergi, saya akan membayangkan seandainya dia bersama saya ditempat itu, begitu pula sebaliknya.
Melakukan hal bodoh, konyol, memalukan dan akhirnya akan tertawa dan menangis bersama sama pula.
Terlintas iri di batin saya.

Tapi..
Lebih dari itu semua. 
Tidak ada orang yang ingin jatuh di lubang yang sama dua kali kan? 
Dan didalam kasus ini saya sudah jatuh dilubang yang sama dua kali, dan tidak ingin merasakan kesempatan untuk jatuh tiga atau empat kali :)
Cukup.
Saya ingin dia nantinya adalah persinggahan terakhir saya.
Ga muluk kan :) 

( disaat yang sama teruntai doa tulus untuk semua teman teman saya yang sekarang sedang menikmati rutinitas dicintai dan mencintai. Saya harap, suatu hari saya akan menerima sepucuk undangan dari kalian dengan senyum yang sumringah seraya membatin " akhirnya kalian nikah juga " :) )

Tertanda,
Aku.

Kamis, 11 Juli 2013

Sayap

" kematian itu adalah hal yang pasti. Dimana setiap kelahiran akan datang bersama kematian. Tapi, ketika berbicara tentang keimanan, tidak sebatas kita meyakini bahwa kematian itu akan datang menyapa kita, orang-orang yang kita sayangi atau orang orang sekitar kita. Keimanan itu tentang bagaimana sikap kita ketika hari itu datang. "

Sungguh..
Ini bukan tentang kesedihan yang melanda, meluluh lantakkan semua kekuatan ketika sebuah takdir yang tertulis merenggutmu secara tiba-tiba.
Ini juga bukan tentang betapa saya bagai kehilangan arah ketika melihat beliau terbaring kaku, dingin dan terkafani ditengah kerumunan orang yang menangis.
Ini juga bukan tentang betapa teriris irisnya hati saya ketika saya harus memandikan beliau dengan berlinangan air mata, berusaha berhenti tapi begitu sulit.

Bukan,
Ini semua bukan tentang itu.

Ini tentang..
Betapa beliau bagaikan bagian kata dalam setiap percakapan.
Betapa beliau bagaikan sayap yang membantu saya terbang cukup tinggi sampai 22 hari yang lalu.
Betapa beliau bagaikan setiap pegangan yang mengiringi setiap langkah dan selalu siap sedia saat saya kehilangan keseimbangan.
Betapa beliau amat lemah lembut, berkata dengan nada tinggi dengan tempo dan waktu yang tepat.
Betapa beliau menjadi tolak ukur untuk setiap laki-laki yang akan masuk kedalam kehidupan saya.

Yaa, ini tentang beliau..
Yang menjadi acuan saya untuk terus berlari karena beliau tidak pernah mengatakan 'tidak boleh'
Yang akan selalu tau ketika saya menangis dan bersedih, tidak berani menanyakan 'kenapa?' Ataupun datang menghibur tapi akan selalu meminta kakak-kakak saya untuk melakukannya untuk beliau. Karena beliau adalah orang yang kaku, tidak pandai berkata kata.
Yang saya mimpikan suatu hari akan sangat merasa tegang dan khawatir ketika harus menjabat tangan seorang laki-laki yang akan mengucap ijab qobul untuk meminta saya, putri terakhirnya.
Dan tentang beliau yang mungkin akan sangat tersenyum bangga ketika putri kecilnya menyandang gelar 'dokter' didepan namanya.

Tentang beliau yang ketiadaannya saya ikhlaskan, rindukan, doakan dan tangisi dalam waktu yang bersamaan.
Tentang beliau yang ketiadaannya membuat saya bagai terbang begitu landai karena terbang dengan satu sayap.
Tentang beliau dan semua kenangan yang beliau tinggalkan.
Tentang beliau yang kami cintai dengan begitu sangat.
Tentang Pap.

Tertanda,
Aku.
                           

Senin, 24 Juni 2013

kisah tentang 'Slimming suit kozuii'

siaran tv menampilkan iklan yang sama berulang-ulang, papa sibuk di depan komputer. sibuk.
aku pun sibuk mengerjakan pr. bunda pun yang baru pulang kerja sibuk, sibuk membersihkan diri dan memperhatikan diri didepan kaca.

akhir-akhir ini Bunda sering mengeluhkan tubuh yang katanya 'gendut', mulai 'tidak kencang' seperti waktu muda.
seperti yang pernah aku baca di internet, usia Bunda sekarang, mulai memasuki usia tidak percaya diri.
sedangkan aku dan Papa yang biasanya menjadi pendengar keluhan Bunda tentang 'penampilan' hanya duduk diam. tidak berkomentar. tepatnya, takut berkomentar.

selang berapa hari kemudian, siang itu..
aku yang baru pulang sekolah disambut oleh tukang pos di depan pagar rumah yang membawa paket.
tertulis :

ir.H.Mustofa Kamal,M.Sc.
jl. Bank Raya No.20
Palembang- Sumatera Selatan.

sebuah kotak yang tidak terlalu besar. setelah tanda tangan tanda terima, aku meletakkan bingkisan itu di atas meja kerja Papa.

***
sehabis sholat magrib berjamaah, hal yang wajib buat kami semua ngumpul di ruang tengah. biasanya sekedar buat nonton tv bareng. Papa duduk disebelah Bunda dengan wajah sumringah, membawa bingkisan dari tukang pos yang diantar tadi siang. 


" Buat Bunda, supaya langsing lagi." ujar Papa.
kami semua menahan tawa. Bunda terdiam. 
" Ngapain pa beli ini, kan mahal. mending dibeliin apa gitu." kata Bunda.
Papa hanya tetap tertawa walaupun kayanya saat itu Bunda ngambek. entah karena malu atau karena memang harga barang ini saat itu benar benar masih mahal.

tapi yang pasti, benda ini selalu di pake Bunda sampe sekarang.

saya dan kakak saya yang menemukan kotak ini dilemari almarhum pagi ini, baru saja menyadari. Bahwa ini salah satu hal ter-romantis yang pernah beliau lakukan.
mungkin buat beliau, tubuh istrinya waktu itu yang katanya 'gendut' dan 'tidak kencang' bukanlah hal yang harus dikhawatirkan, bukan masalah buat beliau. Tapi, melihat istrinya khwatir, sedih. itu masalahnya.
Dan hadiah ini, obat untuk kesedihan istrinya. Subhanalloh :')

How do I not miss you when you are gone, Pap?

tertanda,
Aku.

Sabtu, 22 Juni 2013

Papa atau lebih sering saya panggil PAP

Agustus 2012..

disebuah mobil inova silver. saya duduk di bangku kiri, sibuk memperhatikan jalan Palembang yang padat dan banyak berubah.

" kamu ikut organisasi apa di kampus dek?" tanya beliau seketika.
saya sempat terdiam beberapa detik, ini percakpan yang paling saya hindari. karena ada sesuatu yang saya sembunyikan rapat rapat dari beliau.

" senat mahasiswa, Pap." jawab saya singkat tetap memperhatikan keluar jendela.

" ooo itu tingkat fakultas ya? kamu dibagian apa?" tanya beliau lagi.
saya menelan ludah.

" tahun kemaren sih di Pengabdian Masyarakat." jawab saya lagi singkat, menghindari berbohong ke beliau.

" kalo sekarang?"

kali ini saya benar benar dititik akhir. pertanyaan yang tepat sasaran.
" sekarang...... (menarik nafas panjang) adek, ketua senatnya,Pap." jawab saya kemudian. menunduk menunggu murka beliau.

" kamu???? HEBAAT (tertawa) ketuanya cewek? anak pap?" dengan wajah sumringah beliau menerima berita ini.
diluar dugaan saya. iya reaksi beliau diluar dugaan saya.

***

masih dibulan Agustus 2012...
kali ini didalam mobil inova silver ini, tidak hanya kami berdua ditambah kakak perempuan saya dan bunda.

" nanti pas adek wisuda, foto foto masa kecilnya dikumpulin. kita buat film, terus diputerin deh pas wisuda." Kata Pap tiba tiba.

" iya.. iya foto yang lucu lucu itu." bunda menimpali.

" kenapa pas wisuda, Pa? pas akad nikah adek aja." saran kakak perempuan saya. saat itu saya yang jadi bahan pembicaraan hanya diam, pasrah dijadikan bahan.

terekam jelas diingatan saya, Papa sempat diam beberapa menit, lalu menimpali, " jangan.. jangan pas akad nikah. takut usia papa ga nyampe. pas wisuda aja." ujar beliau.

entah mengapa, sore itu saya marah sekali. beliau membuat saya takut.
" udahanlah.. pada ngomongin apa ini." ujar saya.
seisi mobil hening. mungkin sedang bermain dengan pikiran masing-masing.

***
20 Juni 2013.

pernah ikut renungan suci? dimana biasanya pembicara menampilkan scene dimana ketika kita sampai dirumah, tanpa sepengetahuan kita ada bendera kuning didepan rumah. ketika kita mulai melangkah masuk ke rumah, tubuh orang tua kita terbujur kaku ditengah ruangan, dingin, sudah diselimuti kain, disekitarnya orang orang membacakan surat yasin. Dan biasanya ketika scene ini diceritakan pembicara, kita mulai menangis histeris karena kita ikut membayangkan bagaimana ketika scene ini menjadi nyata.

kurang lebih itu yang saya rasakan hari ini. ketika turun dari taksi, saya dan kakak kakak saya disambut beberapa orang dengan mata sembab, memeluk kami bergantian, mengucapkan belasungkawa.
otak saya masih berusaha mencerna saat itu, sulit sekali dipahami apa yang orang orang ini bicarakan.
saya mengiring dibelakang kakak kakak saya yang berlari kecil menuju kedalam rumah. Bunda. iya, yang mereka cari Bunda.

telapak tangan saya dingin, sekujur tubuh saya kaku, ditengah ruangan Pap terbaring kaku. engga.. beliau engga bergerak sama sekali. 
padahal biasanya beliau yang paling antusias menyambut didepan pintu ketika kami pulang. tapi malam ini, ketika saya pulang, saya disambut oleh orang lain yang memeluk saya mengiring saya kedepan Bunda. dan setelahnya saya hanya ingat, saya hanya menangis tertahan dipangkuan bunda saya.

ir. H. Mustofa Kamal,M.Sc


tubuh beliau dingin, kaku, wajah beliau tenang, tersenyum. Beliau terlihat lebih tampan dari yang saya ingat.

Pap itu ... cinta pertama saya sebagai seorang anak perempuan.
Pap itu ... cerdas, teman berdebat yang hebat.
Pap itu ... guru spiritual pribadi yang handal.
Pap itu ... Partner in crime yang solid, selalu senyum melihat kenakalan kenakalan kami, tapi tetap menasihati diakhir.
Pap itu ... yang selalu nganterin adek kemanapun itu. daftar SMP, test masuk SMP, test masuk SMA, bahkan sampe daftar masuk kuliah. nganterin adek ke mal untuk jalan sama temen, nganterin adek yang diem diem ikut test PASKIBRAKA dan harus berangkat pagi pagi saat test. dan Pap ga pernah ngeluh sedikir pun.

semoga Allah memberi tempat terbaik disisiNya buat Pap. Supaya Pap bisa tetap ngeliat adek, Bunda dan kakak kakak dari sana.
adek sayang Pap, tapi Alloh lebih sayang Pap. we always love you, Pap.

01 Januari 1947 - 20 Juni 2013

tertanda,
Aku



Rabu, 05 Juni 2013

Empty

Tried to take a picture of love.
Didn't think i'd miss him that much.
I want to fill this new frame, but its empty.

Tried to write a letter in ink.
Its been getting better, i think.
I got a piece if paper, but its empty.
Its empty

Maybe we're trying, trying too hard.
Maybe we're torn apart.
Maybe the timing, is beating our hearts.
We're empty.

Yes, its empty...

Minggu, 19 Mei 2013

Percakapan dengan Tuhan


saat semua kekuatan yang ada berkumpul dilutut
membuat kepala yang terbiasa mendongak tertunduk patuh.
hanya suara hati yang ada.
tanda menyerah sepenuhnya kepada sesuatu yang tidak terlihat tapi terasa begitu nyata.

satu satunya anak kunci yang aku punya.
hanya hatiku yang berbisik lirih, terhubung langsung ke penciptanya.
semua tunduk tak berdaya. karena lelah dengan berbagai usaha yang tak membuahkan hasil.

bagai anak kecil yang meminta dibelikan mainan idamannya.
aku merengkuh dipelukanNya. tetap berbisik lirih dari hati ke hati.
membentuk sebuah percakapan panjang.
dan...
kamu salah satu topiknya. kamu tetap menjadi salah satu topik yang tak ingin aku sembunyikan dariNya.
sejak hari itu. nama kamu terpatri rapi sebagai topik wajib.

namun hari ini.
rayuanku tentangmu, mulai berubah haluan.
seperti menyadari bahwa sang punguk akan selalu merindukan rembulan tanpa memiliki kesempatan untuk memeluk.
karena takdir di kitabullah tertulis tegas.
tugas punguk hanyalah untuk merindukan, bukan untuk memiliki.

atau seperti bulan yang hanya bisa saling menatap dengan matahari tanpa bisa berjalan melangkah bersama.
menghabiskan waktu bersama.
karena takdir mereka hanya sebatas saling menyayangi dalam diam. dan saling mendoakan.

percakapanku pada Tuhan, selalu membawaku pada satu kenyataan.
kenyataan yang hanya Dia yang tahu.
kenyataan yang membuat kita terasa jauh saat ini. entah adakah kita saling merindukan dalam diam. atau saling mendoakan dalam rindu. mengingat ditengah waktu yang berlari.
atau hanya aku, mungkin hanya aku.
kenyataan yang membuat aku menumpukan semua kekuatan di lututku saat ini.
menegadah tangan, menekan ego, menundukkan kepala yang lelah mendongak.
memulai percakapan panjang dengan Tuhan.
dan kamu selalu menjadi bagiannya.

tertanda,
Aku.

Sabtu, 11 Mei 2013

Tidak mati

Sunyi, yang ada hanya detik jam yang bersenandung lirih.
Gelap, yang ada hanya asa yang menggelitik.
Kenangan yang menari riang diiringi rinai hujan diluar sana.
Aku diam. Tidak mati.

Diam tak bergeming, hanya ingin diam.
Karena terlalu lelah untuk bergerak.
Seolah berpindah tapi tetap berada didalam ruang yang sama.
Hanya diam, berteman dada yang naik turun, tanda nyata bahwa aku tidak mati.

Memejamkan mata, menerbangkan pikiran bebas.
Sudah cukup lama dia terkekang oleh tanya 'kenapa' yang betubi-tubi dilontarkan oleh hati.
Membiarkan rasa tertidur sejenak setelah cukup lama dipaksakan kuat untuk berdampingan dengan sedih.
Aku tidak mati. Hanya dormant kata orang.

Mencoba menganyam waktu tanpa selipan asa dan rasa.
Asa dan rasa hanya membawa kenangan yang memberontak tak ingin usang didalam kotak hati yang tua.
Tertinggal didalam ruang gelap.
Tak ingin terlupakan.
Sedangkan hati menuntut kebahagiaan. Tak dapat lagi sejalan dengan kenangan.
'Sudah cukup.!' Katanya tegas tapi tetap menangis menutup kedua telinga tak ingin mendengarkan penjelasan, lelah mencari cari pembenaran.

Tersenyum, hal sulit untuk saat ini disatu sisi lain penawar terhebat.
Tetap menikmati senandung lirih yang dinyanyikan detik jam. Bisikan sendu hujan.
Aku memeluk kedua kakiku erat, tersenyum. Mencoba tersenyum lebih tepatnya.
Aku masih hidup. Aku tidak mati.
Begitu pula kamu wahai hati, pikiran, asa dan rasa.
Kita hanya sedang menikmati hidangan sunyi yang ternyata tidak terlalu buruk.
Berteman baik dengan sendiri yang dijauhi banyak orang.
Kita hanya sedang bermanja dengan Tuhan lewat nyanyian doa yang kita hasilkan disudut ruangan gelap ini.
Kita... Tidak mati.

Tertanda,
Aku :)

Sabtu, 27 April 2013

Kangen itu...

Pagi ini kejenuhan saya yang terlelap selama 12 jam karena flu yang semakin parah dan akhir saya takluk dengan 'NOZA' 4 kaplet obat flu membawa saya berkunjung ke salah satu sosial media yang saya punya.
Dan...
Ini yang saya temukan pagi ini.



1 rasa..
Yang saya yakin, hampir dari setiap kita pernah merasakannya.
Tapi masing masing kita yang merasakan, memiliki presepsi yang berbeda dari rasa ini.

Kangen itu...
Satu, tapi memiliki sejuta rasa ketika kamu mengecapnya.
Manis, pahit, sakit, 'flat', dan berbagai macam lainnya.

Kangen itu...
Sensasi yang menyerupai 1 koin dengan 2 sisi.
Mengasyikan di satu sisi tapi menyakitkan di sisi lain.

Kangen itu...
Sesuatu yang ada karena kamu memendam sesuatu, untuk seseorang.

Kangen itu...
Ketika kamu mendengarkan sebuah lagu, membawa ke dimensi lain.
Memutar semua kenangan yang kamu punya tentang dia.

Kangen itu...
suatu hasrat, disatu waktu terasa harus terpenuhi tapi di waktu yang lain terasa lebih baik di simpan.

Kangen itu...
rasa...

*terima kasih kak Muti dan Teteh Mardi buat postingnya yang waah :')*

tertanda,
Aku.



Senin, 22 April 2013

Dua puluh satu april untuk 21 tahun

Halo...
Selamat hari tua untuk saya sendiri..
Yap. Ini harinya. Ini hari dimana ibunda saya yang sudah menahan beban berat di rahimnya melahirkan saya yang seberat 4,3 kilogram 21 tahun yang lalu.

Banyak doa. Harapan. Dukungan dari orang orang yang saya sayangi dan menyayangi saya.
Ini sudah lebih dari cukup. Karena dari awal, untuk hari ini saya tidak berekspetasi yang tinggi. Tidak memimpikan didampingi seseorang untuk hari spesial ini. Tidak memimpikan 21 tahun yang meriah.

Dan doa yang terlantun sudah lebih dari cukup untuk saya.
Oiya, ini deadline buat saya tentang perasaan saya. Setidaknya mulai hari ini saya harus berusaha keras dengan saya sendiri.
Saya tau kamu tidak akan pernah membaca ini. Dengan penuh keyakinan saya yakini kamu tidak akan pernah membaca ini.
Tapi... Saya ingin berterima kasih untuk kamu.

Terima kasih kepada Alloh yang mahaaa baiiik.
Benar benar baiik.
Dari sederetan doa, berharap resolusi 21 tahun saya semuanya tercapai yang saya tekankan.
Jodoh??
Engga. InshaaAlloh itu bukan fokus saya untuk setahun ini.
Biarkan hati saya beristirahat sejenak dari semua kegiatannya yang melelahkan.
Yaa setahun ini hati saya bekerja terlaluuuu keras, bahkan dia pun sampai terlalu bingung apa yang harus dia kerjakan lagi.
Jadi biarkan dia menikmati masa dormant nya. Seraya menunggu seseorang yang sengaja di persiapkan dan di simpan Alloh untuk di launching disaat yang tepat :)

Hhhhhh
Tidak bisa dipungkiri. Sampai menulis ini pun, masih terasa sensasi kesakitan yang masih terlalu nyata.
Jangankan untuk melihat, meliriknya saja saya rasa saya belum terlalu kuat.
Tapi, suatu hari. Saya berjanji..
Saya akan menghampiri ruangan itu. Harus.
Untuk membersihkan, merapikan, mengembalikan semuanya.
Saya berjanji...
Ketika suatu hari saya bertemu kamu...
Tidak akan ada lagi emosi yang terlibat. Semuanya akan mengalir begitu saja.
Saya akan tersenyum tulus. Begitupun kamu. Ya? :)

Sekarang pertama tama yang harus saya lakukan,
Saya harus pemanasan, lalu mulai berlari lagi melawan arus.
Karena mengikuti arus membuat saya terlihat terlalu lemah.

Selamat ulang tahun mutiara kesuma ningrum.
Kamu kuat! Lebih dari yang kamu sendiri dan mereka tau.

Welcome to the jungle dear :)

Tertanda,
Aku.

Jumat, 12 April 2013

Sebuah nama

...
...
...
...

....................., muti K N, ................... , ...................

Saya sempat terdiam beberapa menit. Mencoba mencerna kata kata lawan bicara saya sore ini.
Tersenyum tipis.
' emang iya? Bohong.' Hanya kata itu yang bisa dihasilkan dari beberapa menit saya terdiam.
Yang mampu pita suara saya keluarkan.

Lawan bicara saya menyerahkan sesuatu. Seraya tersenyum. Seolah olah berkata ' ini buktinya '

Ada satu nama disederetan nama lainnya.
Tidak asing, nama ini familiar sekali.
Otak saya agak lama mencerna tampaknya sore ini.

Selanjutnya saya menyadari.
Itu.... Iya.... Itu nama saya :)
Saya terpaku. Ada desiran di dalam dada saya. Saya tersenyum lagi. Syukur melantun pelan dari hati saya.

' mau di simpen ? Di foto mungkin ? ' lawan bicara saya menawarkan dengan senyum jahil.
Saya hanya menggeleng seraya tersenyum. Menyerahkan kembali benda yang saya pegang untuk kembali dia simpan di dalam tasnya.

Satu yang pasti yang terjadi sepanjang sore ini.
Desiran nyata sebagai tanda syukur.
Saya sempat menggenggam sesuatu yang berharga. Benda itu nyata di kulit saya. Akhirnya :')

Terima kasih untuk kamu :)

Tertanda,
Aku.

Kamis, 11 April 2013

Bias dalam biasa

Teruntuk kamu...
Yang beberapa hari ini berhasil membuat hati saya berdesir disertai sensasi tusukan pelan, yang semakin lama semakin dalam.
Menciptakan nyeri yang tak terbantahkan.
Yang beberapa hari ini kembali saya temukan sosoknya di tengah kerumunan banyak orang yang ada.
Memusnahkan rasa rindu dan pertahanan hati yang ada dalam satu waktu.

Teruntuk kamu...
Yang beberapa hari ini melukis bias didalam hati saya ketika saya meyakinkan semuanya biasa. Ketika saya sedang berusaha keras meyakini diri saya sendiri, bahwa saya baik baik saja.

Teruntuk kamu...
Yang hatinya berusaha saya jaga dengan amat sangat, entah karena alasan apa.
Yang pernah menunjukkan kepada saya, bahwa 'semesta ini ajaib dan jahil' dalam satu waktu.

Teruntuk kamu...
Yang beberapa bulan terakhir merubah isi rayuan saya kepada Tuhan.

Semua tentang kamu.
Yang coba saya sembunyikan, tapi takdir selalu nakal mengorek apa yang tersembunyi.
Semua ini tentang sesuatu yang semua orang agungkan.
Mudah terucap tapi teramat sulit untuk di genggam apalagi dipeluk untuk selalu terjaga.
Semua ini tentang cinta.
Semua ini tentang komitmen yang pernah terucap.
Tapi tak ada satu pun didalam semua ini tentang tuntutan pertanggungjawaban untuk apa apa yang telah terlanjur terucap.
Semua ini hanyalah tentang rasa bias yang luar biasa, tersembunyi rapi dalam kata 'biasa aja' yang terucap dalam percakapan monolog terhadap diri sendiri.

Tertanda,
Aku.

Rabu, 03 April 2013

Menerka rasa

" jangan menerka nerka perasaan kamu sendiri. Bisa celaka kamu."

Bentuk perhatian dari seorang sahabat.
Ini kebiasaan buruk saya memang. Menerka rasa.
Saya menguntai tanya setiap saya mencoba untuk menerka perasaan saya sendiri.

Dia begitu gelap, hitam, tak terjamah kadang.
Bahkan oleh saya yang empunya.
Ini alasan nyata mengapa saya menerka dia.
Berusaha mengerti maunya agar sakit yang ada tak terasa begitu nyeri.
Iya, saya memang pengecut.
Saya takut nyeri yang ada terlalu menyiksa hati saya.
Otak saya pun angkat tangan untuk berlogika, dia tidak bisa menghentikan aliran nyeri ke pusatnya.
Alhasil, saya meradang.

Dia begitu misterius, menggemaskan kadang.
Terlalu nyaman bersembunyi, tapi dalam diam juga menghasilkan luka yang besar.

' lihat bagaimana saya bisa mengabaikan ini semua, tanpa saya melakukan apa apa. Minimal ya menerka, supaya saya bisa bersiap dengan segala kemungkinan yang ada. '

Ini memang sebuah pembelaan nyata dari saya.
Tapi tentu saja otak saya tidak sepakat dengan pembelaan ini.
Dia membelot. Tak mau patuh dengan hati maupun saya yang empunya.
Jadilah dia berkelana entah kemana, asal tidak menelik rasa yang ada sekarang.
Dia berusaha melindungi. Karena terkadang terlalu peduli mengakibatkan kesakitan yang berlebih.
Dia berusaha memutarkan rekaman yang ada, sebagai alasan nyata ' kenapa harus berhenti disini.'

Dan saya. Hanya terdiam. Membisu menyaksikan pertengkaran hati dan otak saya.
Mereka tidak akur seperti biasanya.
Hati saya terlalu perempuan, dan otak saya terlalu ingin menjadi laki-laki.

Tertanda,
Aku.

Jumat, 22 Maret 2013

Waktu

Berjalan begitu cepat
Merubah semua dengan begitu cepat juga
Seminggu kemarin, kamu masih di sini.. Masih menjadi alasan saya untuk tertawa, tersenyum.
Masih duduk disamping saya, ikut memperbaiki hati saya yang compang camping.

Seminggu kemarin, kita masih duduk bersebelah mengomentari apapun itu
Seperti pembicaraan ini tidak memiliki ujungnya, dan dalam waktu yang bersamaan saya pun berdoa agar pembicaraan ini memang takkan pernah menemui ujungnya.
Karena ketika percakapan ini berujung, rasa takut akan menguasai hati saya. Saya takut, waktu ini tidak akan pernah ada lagi.
Waktu ini akan lenyap dan tak bersisa.
Menyisakan luka dan saya hanya mengenang kamu dalam kepingan kenangan.
Hati saya meradang merasakan nyeri luar biasa dan hipocampus tetap melaksanakan tugasnya tak peduli apapun.
Saya takut, genggaman kamu akan mengendur sampai akhirnya hanya terasa sentuhan diujung jari saya, dan lama kelamaan benar benar menghilang.

Dan waktu,
Memang melaksanakan tugasnya dengan baik. Tepat.
Sesuai dengan apa yang telah tertulis di kitabullah.
Waktu merenggut kamu dengan sempurna, tanpa sisa.

Tertanda,
Aku.

Minggu, 17 Maret 2013

Lingkaran cosmic

Mendengarkan dan didengarkan. Mencintai dan dicintai. Menghargai dan dihargai.
Mempertahankan dan dipertahankan. Memberi dan diberi
Atau..
Menunggu tapi ditinggalkan. Menawarkan tapi ditolak. Menjaga tapi diabaikan.
Sebuah lingkaran cosmic yang biasa kita panggil kehidupan. Seperti jarum jam yang berjalan berdampingan atau berlawan arah. Dan terkadang bertemu pada satu titik, dalam per-second mereka berjalan saling meninggalkan dan menanti pertemuan selanjutnya.

Saya dan kamu.
'kita' salah satu komponen dalam lingkaran cosmic ini.
Menikmati setiap perjalanannya. Dan pada satu titik, kita saling menemukan. Tapi sepersekian detik berjalan saling meninggalkan.
Apakah kamu seperti saya, menunggu titik selanjutnya tempat dimana mungkin kita akan dipertemukan??

Ataukan mungkin, kamu sedang menunggu pertemuan selanjutnya, dengan komponen lain di lingkaran ini?? Tapi, bukan saya.

Saya berdoa kamu adalah tempat saya akan selalu kembali. Entah harus berapa lapisan lingkaran cosmic ini yang harus saya langkahi untuk menemukan titik dimana saya kembali ke kamu.
Peta yang saya punya hanyalah sebuah kepercayaan. Bekal yang saya bawa hanya doa dan kesabaran. Dan itu semua saya pinjam dari Tuhan.
Dan satu satunya alamat yang saya punya, hanya nama kamu.
Nama kamu yang saya sisipkan dalam setiap lantunan harapan saya kepada Tuhan. Ekspetasi saya hanya sebatas 'semoga dititik selanjutnya, yang saya temukan tetap kamu sang mata indah. Dan Tuhan memang mengirimkan kamu sebagai yang terbaik.'

Tapi..
Akankah kamu menginginkan hal yang sama? Dititik selanjutnya, akankah kamu ingin tetap menemui saya sebagai takdir kamu?

*menghela nafas*
seandainya, realistis dan kenyataan tidak semenyakitkan ini ya. Seandainya misteri takdir tidak se-menggemaskan ini.

Sudahlah, biarkan tangan Tuhan yang bermain.
Apa yang dilingkaran ini tak akan ada yang luput dari lirikan Nya bukan? Kamu percaya itu kan?
Dan satu satunya anak kunci yang kita punya hanya doa bukan? Berharap Dia mau berbaik hati untuk mendengarkan rayuan kita tentang titik selanjutnya.

Kamu tau,
Tampaknya.. Saya akan tetap memilih menunggu kamu di titik selanjutnya. :)

Tertanda,
Aku.

Rabu, 27 Februari 2013

Dua hamba

Ada dua hamba yang berjalan di jalan takdir
Meyakini bahwa takdir Tuhan tidak pernah meleset
Menyadari bahwa apa yang berjalan sekarang, mungkin sudah tertulis

Ada dua hamba yang meniti jalan panjang yang ujungnya hanya Tuhan mereka yang tahu
Tapi tetap percaya dan yakin bahwa akhirnya di ujung jalan ini mereka akan tetap bersama seraya menggenggam tangan satu dan yang lainnya
Didalam hati mereka masing masing berdoa untuk di kuatkan dijalan ini

Takdir Tuhan tidak pernah meleset bukan??
Iya itu yang selalu tertanam didalam hati dua hamba
Mereka berjalan tanpa ekspetasi, hanya berserah pada kehendak Tuhan kemana Dia akan mengarahkan langkah mereka.
Berjalan tanpa kekuatan yang kekal, hanya bermodal doa dan keyakinan bahwa usaha akan menjadi salah satu anak kunci dari belas kasihan Tuhan.

Tertanda,
Aku

Senin, 25 Februari 2013

Dinding

Terbentang sebuah dinding.
Tak terlihat tapi menjadi sekat yang begitu nyata.
Dinding ini berdiri kokoh, seteguh apapun kita berusaha mendaki kita tak akan menemui puncaknya
Hati kita terpisah oleh dinding ini.

Dinding ini satu tapi selalu mempunyai dua sisi
Sisi milikmu dan tentunya sisi milikku
Awalnya kita berusaha membagi sisi, kamu akan selalu membagi sisimu kepadaku
Begitu pula denganku akan selalu memperlihatkan sisiku kepadamu.
Entah berwarna apa dindingku, itu yang akan selalu aku perlihatkan padamu.

Tapi ada satu hal yang kita lupakan.
Dinding ini begitu kokoh, kuat dan teguh.
Dan tak ada satu pun dari kita dapat melihat celah ataupun puncak dimana semuanya akan berujung.
Dimana dipuncak tersebut kita masing masing begitu nyata. Tidak hanya saling memandang dari dinding kaca yang menjadi sekat ini.
Terbesit tanya... Sampai kapan ??

Terbentang sebuah dinding kaca yang tak terlihat tapi nyata.
Antara dindingmu dan dindingku. Tempat dimana biasanya kita bisa saling menatap. Tapi tidak dapat saling menyentuh.
Dan yang bisa kita lakukan hanyalah pasrah seraya berdoa, berharap suatu hari dinding ini memiliki pintu untuk mempertemukan kita secara nyata.

Terbentang sebuah dinding kaca yang nyata begitu tinggi tanpa puncak.
Dinding ini aku beri nama 'sudut pandang'

Tertanda,
Aku.

Senin, 04 Februari 2013

Sebuah janji untuk beliau yang tercinta

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 wib.
Saat itu wanita yang aku panggil bunda, yang melahirkan aku dengan penuh perjuangan dari rahimnya. Menahan rasa sakit atas pemberontakan bayi seberat 4 kilo yang berusaha segera keluar  dari rahim untuk melihat dunia dan melihat bundanya, baru saja pulang setelah bergelut dengan rutinitasnya sebagai 'wanita karier'

Aku mengerti, mengerti sekali.
Bahkan aku tidak pernah protes untuk meminta waktu beliau untukku. Aku tak ingin beliau sedih. Sebisa mungkin aku lalui sendiri masalah masalah remajaku tanpa beliau tau.

Malam ini, beliau pulang dengan wajah lelah. Tampak lebih lelah dari 19 tahun belakangan.
' mungkin faktor usia. ' batinku.
Aku duduk dibelakangnya, berusaha membantu beliau melepas lelahnya sebisaku.
Dengan tangan tanganku yang sebenarnya dibilang tidak cukup terampil dalam hal pijat memijat.

Setelah beberapa lama, beliau memutuskan untuk berbaring. Aku ikut berbaring didekat beliau.
' nda, adek mau minta peluk.' bisikku. Ini kebiasaan langka ku, saat semua terasa sulit, hanya dengan pelukan hangat beliau semua terasa mudah.
' udah gede kok hobinya ga ilang-ilang.' jawab beliau menggodaku dan memelukku erat.
Hangat. Yaa tak ada pelukan sehangat ini. Senyaman ini.

' bunda.. Maaf kalo adek belum bisa ngasih apa apa. Adek mohon doa. Tinggal 2 semester lagi untuk jadi seorang sarjana kedokteran, insyaalloh.' aku menghela nafas, menahan tangis.
' terus coas dan ukdi. Perjalanan adek masih panjang yah nda.' lanjutku menjelaskan.
Beliau hanya diam menyimak dengan saksama.
' jadi, bunda papa harus sehat. Supaya bisa liat adek jadi dokter.' lanjutku karena tak ada jawaban apapun dari mulut beliau.

Tangan beliau mengelus punggungku pelan.
' bunda selalu mendoakan, nak. Semoga Alloh memberikan kemudahan disetiap langkah.bunda percaya kamu bisa.' ujar beliau.

Aku membenamkan wajahku dipelukan beliau. Sesuatu yang hanya 6 bulan sekali aku dapatkan semenjak didunia perkuliahan.

Dalam hatiku berdoa. Semoga Alloh berkenan membantuku untuk memenuhi janji untuk beliau yang tercinta. Aamiin
Mungkin awalnya ini bukan bagian dari cita-citaku. Jalan ini, profesi ini sempat terlintas sebentar, namun tak ada keinginan untuk mewujudkannya.
Tapi, beliau lah alasan dari semua alasan. Keinginan beliaulah motivasi dari semua motivasi. Cinta beliaulah kekuatan dari semua kekuatan.

Tertanda,
Aku

Jumat, 11 Januari 2013

sederhana

gadis ini pernah merasakan sakit yang teramat sangat.
memilih duduk terdiam sambil menghela nafas panjang, menghirup udara kebebasan
seraya mengamati kepingan hati yang berada digenggaman tangannya
tersenyum..
sesuatu yang sudah lama sekali tidak dia lakukan.

gadis ini menghela nafas panjang, menatap langit yang tak mendung tidak pula cerah.
memayungi dengan penuh kasih.

dan saat itu.
kamu datang berkendaraan kebetulan yang sederhana
tersenyum, membawa pelangi di genggaman tanganmu

gadis ini mencoba mengacuhkan kamu.
tapi yang kamu bawa terlalu indah.
terlalu ajaib, perlahan, meresap menyusup masuk perlahan mengisi kepingan hati yang sudah berhenti berdetak.

kamu ikut duduk menatap langit yang tidak mendung tidak pula cerah hari itu.
membuka genggaman tanganmu yang membawa pelangi.
gadis itu tertegun, terdiam.
bernafas pelan seirama dengan detakan kepingan hati yang berada digenggamannya yang mulai berdetak kembali setelah menempuh masa istirahat panjangnya karena sakit.
ya, seirama. membentuk melodi sederhana. indah, menenangkan.

detakan ini pelaaan sekali, bagai sebuah kotak musik yang menemukan melodinya.
bagai langit yang menemukan cara melukis pelanginya.
bagai musim semi yang menemukan masanya setelah musim dingin.

gadis ini masih tertegun. menatap mata coklatmu dalam.
kamu pun menatap dalam kedalam pandangan nanar gadis ini. tersenyum.
perlahan memberikan kekuatan, menghilangkan segala rasa takut, hitam, kelam, terasa manis sekali.
gadis itu membalas senyummu. menikmati setiap detakan pelan yang ada.
apakah kamu merasakan detakannya wahai kamu? :)


tertanda,
Aku


Selasa, 08 Januari 2013

The Scientist


Come up to meet ya, tell you I'm sorry
You don't know how lovely you are
I had to find you, tell you I need you
And tell you I set you apart
Tell me your secrets, and ask me your questions
Oh lets go back to the start
Running in circles, coming up tails
Heads on a science apart 
Nobody said it was easy
It's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be this hard
Oh take me back to the start

I was just guessing at numbers and figures
Pulling the puzzles apart
Questions of science, science and progress
Do not speak as loud as my heart
And tell me you love me, come back and haunt me
Oh and I rush to the start
Running in circles, chasing our tails
Coming back as we are

Nobody said it was easy
Oh it's such a shame for us to part
Nobody said it was easy
No one ever said it would be so hard
I'm going back to the start

Oh ooh, ooh ooh ooh ooh

Senin, 07 Januari 2013

amanah

satu kata tapi berisi ribuan harapan yang orang lain berikan ke kamu.
sesuatu yang amat sangat berharga yang dipercayakan ke kamu untuk kamu jaga seperti kamu menjaga diri kamu sendiri.
hari ini ntah amanah yang ke berapa yang sudah tidak mampu saya jalani dengan baik.
malah ini terburuk diantara track record yang ada :(
sediih..
bukan malu karena jumlah nominalnya, tapi malu karena sudah mengecewakan orang lain.
malu karena sudah mendustai kemampuan diri sendiri.
malu karena ternyata terlalu lemah dan menyerah begitu saja dengan rasa malas dan buaian rumah didepan mata.
nominalnya emang kecil banget.
tapi bukan karena itu ngerasa sedih.
tapi karena ternyata hati saya terlalu lemah pendiriannya :(

Rabu, 02 Januari 2013

say hello to 2013

2012....

tahun ini berlalu begitu saja
senang, tangis, jatuh, bangkit, terus jatuh lagi nangis lagi karena orang yang sama.

" lo ga cape mut nangis karena orang yang sama terus?" - Rizka, 20 thn. sahabat gue-

" dia kenapa lagi sampe lo nangis segininya? dia bilang apa?" - Sudding, 20 thn. sahabat gue -

" hati itu ibaratnya mobil. dia butuh berhenti sesaat buat isi bensin sebelum jalan lagi." -kamu, 20 thn.-

yaa.. ini semua tentang hati.
tentang sistem limbik yang mengatur perasaan kamu. dan.. kenangan itu adalah musuh utama sistem limbik gue untuk 9 bulan di tahun 2012.

turun berat badan sampe 5 kilo, pipi yang tadinya mengembang sempurna kaya roti dengan kualitas baik mengecil, tirus sempurna.
insomnia, muka pucet, mata panda, lusuh.
yaa itu gue selama 9 bulan di tahun 2012 ini.

isi doa gue pun setiap gue menghadap Tuhan ikut terpengaruh.
dari meminta kepada Alloh untuk dihilangkan semua perasaan yang udah terlanjur dalam, sampe minta dia cuma buat gue jangan buat orang lain.
dan pada akhirnya, gue tau doa apa yang bener yang harusnya gue minta ke Alloh di penghujung tahun 2012.

gue meminta kepada Tuhan untuk memberikan yang terbaik untuk dia dan wanita yang ga pernah hilang dari hatinya bahkan saat pacaran sama gue :)
dan yang paling penting gue meminta Alloh melunakkan hati gue untuk memaafkan. ya satu kata "forgive".

tapi terlepas dari semua kisah 2012 gue yang sedih, suram atau apapun itu.
terselip syukur yang ga berhenti mengalir dari bibir dan hati gue.
Alloh ga pernah tidur. Dia memberikan orang-orang hebat di hidup gue yang membantu gue untuk bangkit.
orang-orang yang baik yang mau tetep dideket gue yang murung , senyum, merasa lagi, terus balik murung lagi.

And Now...
say " welcome " to 2013.

tahun baru, resolusi baru, pikiran baru, iman yang lebih baik, hati yang baru dan yang terpenting gue yang baru :) insyaAlloh.
tapi satu yang pasti. berat badan gue ga pernah balik ke angka semula.
artinya, sesuatu yang lewat, ga akan pernah terulang kan? tugas kita sebagai manusia hanya menjalani dan mengambil pelajaran yang akan berguna kedepannya. :)

tertanda,
aku :)