aku pun sibuk mengerjakan pr. bunda pun yang baru pulang kerja sibuk, sibuk membersihkan diri dan memperhatikan diri didepan kaca.
akhir-akhir ini Bunda sering mengeluhkan tubuh yang katanya 'gendut', mulai 'tidak kencang' seperti waktu muda.
seperti yang pernah aku baca di internet, usia Bunda sekarang, mulai memasuki usia tidak percaya diri.
sedangkan aku dan Papa yang biasanya menjadi pendengar keluhan Bunda tentang 'penampilan' hanya duduk diam. tidak berkomentar. tepatnya, takut berkomentar.
selang berapa hari kemudian, siang itu..
aku yang baru pulang sekolah disambut oleh tukang pos di depan pagar rumah yang membawa paket.
tertulis :
ir.H.Mustofa Kamal,M.Sc.
jl. Bank Raya No.20
Palembang- Sumatera Selatan.
sebuah kotak yang tidak terlalu besar. setelah tanda tangan tanda terima, aku meletakkan bingkisan itu di atas meja kerja Papa.
***
sehabis sholat magrib berjamaah, hal yang wajib buat kami semua ngumpul di ruang tengah. biasanya sekedar buat nonton tv bareng. Papa duduk disebelah Bunda dengan wajah sumringah, membawa bingkisan dari tukang pos yang diantar tadi siang.
kami semua menahan tawa. Bunda terdiam.
" Ngapain pa beli ini, kan mahal. mending dibeliin apa gitu." kata Bunda.
Papa hanya tetap tertawa walaupun kayanya saat itu Bunda ngambek. entah karena malu atau karena memang harga barang ini saat itu benar benar masih mahal.
tapi yang pasti, benda ini selalu di pake Bunda sampe sekarang.
saya dan kakak saya yang menemukan kotak ini dilemari almarhum pagi ini, baru saja menyadari. Bahwa ini salah satu hal ter-romantis yang pernah beliau lakukan.
mungkin buat beliau, tubuh istrinya waktu itu yang katanya 'gendut' dan 'tidak kencang' bukanlah hal yang harus dikhawatirkan, bukan masalah buat beliau. Tapi, melihat istrinya khwatir, sedih. itu masalahnya.
Dan hadiah ini, obat untuk kesedihan istrinya. Subhanalloh :')
How do I not miss you when you are gone, Pap?
tertanda,
Aku.


0 komentar:
Posting Komentar