Kenapa harus takut akan jarak?
Dia hanyalah kumpulan angka
Dan kita adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna
Kenapa harus mengalah pada jarak?
Dia memang membuat tubuh kita berjauhan tapi tidak demikian dengan hati kita,hmm ??
Oiya aku ingat
Jarak pernah sempat menakutkan
Jarak pernah sangat melelahkan
Dan jarak pernah tak berhasil aku taklukkan
Akankah kita merasa lelah nantinya, dan membiarkan jarak menang untuk kesekian kalinya?
Ataukah kita cukup kuat untuk mengalahkan jarak?
Ataukah kita cukup berlapang dada untuk bersahabat dengan jarak sampai jarak sendirilah yang membawa kita bersama lagi?
Aku menyayangimu bahkan lebih dari puluhan bahkan ribuan jarak yang ada
Apakah itu cukup untuk bekal kita agar kita bertahan sampai nanti?? Sampai jarak ini sendiri yang mempertemukan kita 😊
Tertanda,
Aku
Sabtu, 03 Mei 2014
Jumat, 21 Maret 2014
ku ora opo opo
dear Bapak Mustofa Kamal yang sekarang sedang duduk manis disisi Allah
(aamiin...)
hey Pap!
apa kabar? pasti baik kan?
Allah pasti menjaga Papa dengan baik disana kan?
sudah 9 bulan ya pap, ga kerasa.
tapi tetap selalu ada airmata dalam setiap rindu yang datang.
kemarin..
sebelum OSCE Pra Koass, seperti biasa aku menelpon Bunda.
kangen. sekaligus memohon doa restu.
suara Bunda beda. aku tau beliau pasti nangis.
ternyata benar...
beliau bilang, " ga ada Papa yang ngeliat adek sekarang lagi berjuang."
jalannya sekarang semakin dekat loh Pap!
tanggal 19 april nanti in shaa Allah aku wisuda.
ada undangan buat Papa dan Bunda.
tenang, Bunda ga akan dateng sendiri. ada kakak.
buat Papa?
Papa sudah disiapkan tempat terindah yang disiapkan khusus oleh Allah.
temen-temen setelah wicuda banyak yang berencana foto keluarga.
pastinya kita juga kan Pap !
kesempatan ini hanya sekali seumur hidup.
oiya, maaf.
aku bukan wisudawan terbaik
aku bukan yang akan memberikan kata sambutan di podium.
tapi aku ga akan sedih.
karena aku tau...
ketika nama ' Mutiara Kesuma Ningrum,S.Ked. ' dipanggil kedepan podium
papa akan berdiri, bertepuk tangan bangga, dengan mata berkaca kaca.
aku ora opo opo Pap.
aku...
hanya terlalu merindukan Papa dan terkadang merasa terlalu lelah terbang dengan satu sayap.
me love you, Pap.
salam,
Aku.
(aamiin...)
hey Pap!
apa kabar? pasti baik kan?
Allah pasti menjaga Papa dengan baik disana kan?
sudah 9 bulan ya pap, ga kerasa.
tapi tetap selalu ada airmata dalam setiap rindu yang datang.
kemarin..
sebelum OSCE Pra Koass, seperti biasa aku menelpon Bunda.
kangen. sekaligus memohon doa restu.
suara Bunda beda. aku tau beliau pasti nangis.
ternyata benar...
beliau bilang, " ga ada Papa yang ngeliat adek sekarang lagi berjuang."
jalannya sekarang semakin dekat loh Pap!
tanggal 19 april nanti in shaa Allah aku wisuda.
ada undangan buat Papa dan Bunda.
tenang, Bunda ga akan dateng sendiri. ada kakak.
buat Papa?
Papa sudah disiapkan tempat terindah yang disiapkan khusus oleh Allah.
temen-temen setelah wicuda banyak yang berencana foto keluarga.
pastinya kita juga kan Pap !
kesempatan ini hanya sekali seumur hidup.
oiya, maaf.
aku bukan wisudawan terbaik
aku bukan yang akan memberikan kata sambutan di podium.
tapi aku ga akan sedih.
karena aku tau...
ketika nama ' Mutiara Kesuma Ningrum,S.Ked. ' dipanggil kedepan podium
papa akan berdiri, bertepuk tangan bangga, dengan mata berkaca kaca.
aku ora opo opo Pap.
aku...
hanya terlalu merindukan Papa dan terkadang merasa terlalu lelah terbang dengan satu sayap.
me love you, Pap.
salam,
Aku.
Minggu, 08 Desember 2013
Hey adhitya !
Terimakasih telah menjadi 'pasti' diantara semua kemungkinan kemungkinan yang tidak pasti.
Telah menjadi 'nyata' diantara semua mimpi.
Tetap menggenggam disaat yang lain melepaskan.
Tetap tinggal saat yang lain pergi.
Tetap mendengar disaat yang lain menghindar.
Tetap menatap saat yang lain memilih untuk terlelap.
Tertanda,
Aku
Senin, 18 November 2013
Jumat, 08 November 2013
Senin, 23 September 2013
Jumat, 20 September 2013
Dimulai dari sebuah percakapan
perasaan yang rumit ini malah mungkin dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.
dari untaian untaian kata, yang bersulam menjadi sebuah kalimat yang kaya akan makna.
awalnya, ini hanyalah sebuah rutinitas.
layaknya kita hanya mahluk sosial yang tidak dapat diam terlalu lama.
aku mengenalmu cukup lama.
tak pernah terbesit akan adanya perasaan yang sedemikian rumit ini.
hanya berawal dari satu kata 'Hai'.
terus bergulir mencetak sebuah cerita yang belum menemuin kata 'sampai nanti.' layaknya kodon stop dalam suatu replikasi DNA.
bisakah kita akhiri saja perasaan rumit yang aku rasakan saat ini, sesederhana kita memulainya?
sesederhana mengucapkan 'selamat tinggal' dalam setiap akhir pertemuan lalu berjalan seperti awalnya sebelum semua ini ada.
sesederhana daun yang jatuh, karena memang waktunya untuk jatuh.
namun, senyummu dalam setiap percakapan memang bukan hal yang sederhana untuk diabaikan.
detak jantung yang berdegup tak terkendali saat bersamamu memang tidak sederhana untuk tidak diperdulikan.
bahkan untuk menghentikan rasa yang mulai tercipta sekarang tidak sesederhana seperti awalnya kita mengucapkan 'Hai'.tertanda,
Aku.
Langganan:
Postingan (Atom)





