Minggu, 23 Desember 2012

Sebongkah hati

Tak banyak yang aku harapkan
Ketika pertama kali hati ini memilih kamu disebuah gedung sekolah menengah pertama waktu itu
Tak banyak yang aku pinta pada Tuhan
Aku hanya ingin kamu bahagia lahir batin.

Tak terlihat, tapi perasaan ini selalu menggelayuti sebongkah hati yang tidak mempunyai apa apa untuk kamu
Selalu menyumbang rasa sakit yang nyata
Selalu menyumbang berjuta kata doa yang mengalun untuk kamu dan dia.
Sampai pada akhirnya, aku putusnya untuk menghilang dari lingkaran hidup kamu
Memutuskan semua tali yang terhubung ke kamu.

Entah apa rencana Tuhan kali ini.
Kamu menyelusup masuk lagi kedalam sebongkah hati yang tak aku sadari selalu menyimpan bayang.
Selalu menyimpan semua tentang kamu dengan rapi disalah satu sudutnya.
Kamu yang terluka. Kamu yang membutuhkan pertolongan. Kamu yang mempercayakan hati kamu kepadaku untuk diobati agar dapat berfungsi seperti semula.
Dan saat itu. Aku bimbang. Aku takut. Aku takut akan suatu hal yang belum tentu terjadi.

Namun pada akhirnya. Hanya sebongkah hati yang berbicara.
Hanya bongkahan hati ini yang menuntunku padamu. Hanya bongkahan hati ini yang membuatku selalu tegar sampai detik ini untuk mengobati hati kamu agar dapat berfungsi seperti semula.
Ya... Hanya bongkahan hati ini.

Tak lama, hati kamu bisa berfungsi seperti semula. Dan perlahan melupakan bongkahan hati yang semakin kurus karena memberikan hati kamu energi untuk bangkit. Memberi hati kamu rasa percaya agar lukamu terobati. Yang memberi hatimu semuanya atas nama cinta dan ketulusan.

Ya hati mu telah kembali berfungsi seperti semula, dan.... Kembali mencintai dia.
Selangkah demi selangkah meninggalkan bongkahan hati yang retak dan hancur.
Tak ada yang bisa mengobati lukanya sampai detik ini.
Tak ada yang bisa dia lakukan. Dia sekarat, koma, sakaratul maut.
Tak ada yang dia lakukan selain memanggil kamu dengan berbisik seraya meneteskan air mata.
Dan akhirnya dia sadar, bahwa kamu semakin menghilang.

Bongkahan hati ini, untuk kamu
Dan entah sampai kapan untuk kamu.
Dia sudah terlalu lelah untuk memaksakan dirinya untuk tidak berlayar kehatimu yang semakin menjauh berjalan menuju hatinya.

Bongkahan hati ini untuk kamu.
Dan entah kapan Tuhan mengizinkan dia pensiun dari semua kegiatannya yang selalu mencintai kamu.

Tertanda,
Aku.

0 komentar:

Posting Komentar