Senin, 04 Februari 2013

Sebuah janji untuk beliau yang tercinta

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 wib.
Saat itu wanita yang aku panggil bunda, yang melahirkan aku dengan penuh perjuangan dari rahimnya. Menahan rasa sakit atas pemberontakan bayi seberat 4 kilo yang berusaha segera keluar  dari rahim untuk melihat dunia dan melihat bundanya, baru saja pulang setelah bergelut dengan rutinitasnya sebagai 'wanita karier'

Aku mengerti, mengerti sekali.
Bahkan aku tidak pernah protes untuk meminta waktu beliau untukku. Aku tak ingin beliau sedih. Sebisa mungkin aku lalui sendiri masalah masalah remajaku tanpa beliau tau.

Malam ini, beliau pulang dengan wajah lelah. Tampak lebih lelah dari 19 tahun belakangan.
' mungkin faktor usia. ' batinku.
Aku duduk dibelakangnya, berusaha membantu beliau melepas lelahnya sebisaku.
Dengan tangan tanganku yang sebenarnya dibilang tidak cukup terampil dalam hal pijat memijat.

Setelah beberapa lama, beliau memutuskan untuk berbaring. Aku ikut berbaring didekat beliau.
' nda, adek mau minta peluk.' bisikku. Ini kebiasaan langka ku, saat semua terasa sulit, hanya dengan pelukan hangat beliau semua terasa mudah.
' udah gede kok hobinya ga ilang-ilang.' jawab beliau menggodaku dan memelukku erat.
Hangat. Yaa tak ada pelukan sehangat ini. Senyaman ini.

' bunda.. Maaf kalo adek belum bisa ngasih apa apa. Adek mohon doa. Tinggal 2 semester lagi untuk jadi seorang sarjana kedokteran, insyaalloh.' aku menghela nafas, menahan tangis.
' terus coas dan ukdi. Perjalanan adek masih panjang yah nda.' lanjutku menjelaskan.
Beliau hanya diam menyimak dengan saksama.
' jadi, bunda papa harus sehat. Supaya bisa liat adek jadi dokter.' lanjutku karena tak ada jawaban apapun dari mulut beliau.

Tangan beliau mengelus punggungku pelan.
' bunda selalu mendoakan, nak. Semoga Alloh memberikan kemudahan disetiap langkah.bunda percaya kamu bisa.' ujar beliau.

Aku membenamkan wajahku dipelukan beliau. Sesuatu yang hanya 6 bulan sekali aku dapatkan semenjak didunia perkuliahan.

Dalam hatiku berdoa. Semoga Alloh berkenan membantuku untuk memenuhi janji untuk beliau yang tercinta. Aamiin
Mungkin awalnya ini bukan bagian dari cita-citaku. Jalan ini, profesi ini sempat terlintas sebentar, namun tak ada keinginan untuk mewujudkannya.
Tapi, beliau lah alasan dari semua alasan. Keinginan beliaulah motivasi dari semua motivasi. Cinta beliaulah kekuatan dari semua kekuatan.

Tertanda,
Aku

0 komentar:

Posting Komentar