Minggu, 19 Mei 2013
Percakapan dengan Tuhan
saat semua kekuatan yang ada berkumpul dilutut
membuat kepala yang terbiasa mendongak tertunduk patuh.
hanya suara hati yang ada.
tanda menyerah sepenuhnya kepada sesuatu yang tidak terlihat tapi terasa begitu nyata.
satu satunya anak kunci yang aku punya.
hanya hatiku yang berbisik lirih, terhubung langsung ke penciptanya.
semua tunduk tak berdaya. karena lelah dengan berbagai usaha yang tak membuahkan hasil.
bagai anak kecil yang meminta dibelikan mainan idamannya.
aku merengkuh dipelukanNya. tetap berbisik lirih dari hati ke hati.
membentuk sebuah percakapan panjang.
dan...
kamu salah satu topiknya. kamu tetap menjadi salah satu topik yang tak ingin aku sembunyikan dariNya.
sejak hari itu. nama kamu terpatri rapi sebagai topik wajib.
namun hari ini.
rayuanku tentangmu, mulai berubah haluan.
seperti menyadari bahwa sang punguk akan selalu merindukan rembulan tanpa memiliki kesempatan untuk memeluk.
karena takdir di kitabullah tertulis tegas.
tugas punguk hanyalah untuk merindukan, bukan untuk memiliki.
atau seperti bulan yang hanya bisa saling menatap dengan matahari tanpa bisa berjalan melangkah bersama.
menghabiskan waktu bersama.
karena takdir mereka hanya sebatas saling menyayangi dalam diam. dan saling mendoakan.
percakapanku pada Tuhan, selalu membawaku pada satu kenyataan.
kenyataan yang hanya Dia yang tahu.
kenyataan yang membuat kita terasa jauh saat ini. entah adakah kita saling merindukan dalam diam. atau saling mendoakan dalam rindu. mengingat ditengah waktu yang berlari.
atau hanya aku, mungkin hanya aku.
kenyataan yang membuat aku menumpukan semua kekuatan di lututku saat ini.
menegadah tangan, menekan ego, menundukkan kepala yang lelah mendongak.
memulai percakapan panjang dengan Tuhan.
dan kamu selalu menjadi bagiannya.
tertanda,
Aku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar