Sunyi, yang ada hanya detik jam yang bersenandung lirih.
Gelap, yang ada hanya asa yang menggelitik.
Kenangan yang menari riang diiringi rinai hujan diluar sana.
Aku diam. Tidak mati.
Diam tak bergeming, hanya ingin diam.
Karena terlalu lelah untuk bergerak.
Seolah berpindah tapi tetap berada didalam ruang yang sama.
Hanya diam, berteman dada yang naik turun, tanda nyata bahwa aku tidak mati.
Memejamkan mata, menerbangkan pikiran bebas.
Sudah cukup lama dia terkekang oleh tanya 'kenapa' yang betubi-tubi dilontarkan oleh hati.
Membiarkan rasa tertidur sejenak setelah cukup lama dipaksakan kuat untuk berdampingan dengan sedih.
Aku tidak mati. Hanya dormant kata orang.
Mencoba menganyam waktu tanpa selipan asa dan rasa.
Asa dan rasa hanya membawa kenangan yang memberontak tak ingin usang didalam kotak hati yang tua.
Tertinggal didalam ruang gelap.
Tak ingin terlupakan.
Sedangkan hati menuntut kebahagiaan. Tak dapat lagi sejalan dengan kenangan.
'Sudah cukup.!' Katanya tegas tapi tetap menangis menutup kedua telinga tak ingin mendengarkan penjelasan, lelah mencari cari pembenaran.
Tersenyum, hal sulit untuk saat ini disatu sisi lain penawar terhebat.
Tetap menikmati senandung lirih yang dinyanyikan detik jam. Bisikan sendu hujan.
Aku memeluk kedua kakiku erat, tersenyum. Mencoba tersenyum lebih tepatnya.
Aku masih hidup. Aku tidak mati.
Begitu pula kamu wahai hati, pikiran, asa dan rasa.
Kita hanya sedang menikmati hidangan sunyi yang ternyata tidak terlalu buruk.
Berteman baik dengan sendiri yang dijauhi banyak orang.
Kita hanya sedang bermanja dengan Tuhan lewat nyanyian doa yang kita hasilkan disudut ruangan gelap ini.
Kita... Tidak mati.
Tertanda,
Aku :)
Sabtu, 11 Mei 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar