Kamis, 11 April 2013

Bias dalam biasa

Teruntuk kamu...
Yang beberapa hari ini berhasil membuat hati saya berdesir disertai sensasi tusukan pelan, yang semakin lama semakin dalam.
Menciptakan nyeri yang tak terbantahkan.
Yang beberapa hari ini kembali saya temukan sosoknya di tengah kerumunan banyak orang yang ada.
Memusnahkan rasa rindu dan pertahanan hati yang ada dalam satu waktu.

Teruntuk kamu...
Yang beberapa hari ini melukis bias didalam hati saya ketika saya meyakinkan semuanya biasa. Ketika saya sedang berusaha keras meyakini diri saya sendiri, bahwa saya baik baik saja.

Teruntuk kamu...
Yang hatinya berusaha saya jaga dengan amat sangat, entah karena alasan apa.
Yang pernah menunjukkan kepada saya, bahwa 'semesta ini ajaib dan jahil' dalam satu waktu.

Teruntuk kamu...
Yang beberapa bulan terakhir merubah isi rayuan saya kepada Tuhan.

Semua tentang kamu.
Yang coba saya sembunyikan, tapi takdir selalu nakal mengorek apa yang tersembunyi.
Semua ini tentang sesuatu yang semua orang agungkan.
Mudah terucap tapi teramat sulit untuk di genggam apalagi dipeluk untuk selalu terjaga.
Semua ini tentang cinta.
Semua ini tentang komitmen yang pernah terucap.
Tapi tak ada satu pun didalam semua ini tentang tuntutan pertanggungjawaban untuk apa apa yang telah terlanjur terucap.
Semua ini hanyalah tentang rasa bias yang luar biasa, tersembunyi rapi dalam kata 'biasa aja' yang terucap dalam percakapan monolog terhadap diri sendiri.

Tertanda,
Aku.

0 komentar:

Posting Komentar