Rabu, 03 April 2013

Menerka rasa

" jangan menerka nerka perasaan kamu sendiri. Bisa celaka kamu."

Bentuk perhatian dari seorang sahabat.
Ini kebiasaan buruk saya memang. Menerka rasa.
Saya menguntai tanya setiap saya mencoba untuk menerka perasaan saya sendiri.

Dia begitu gelap, hitam, tak terjamah kadang.
Bahkan oleh saya yang empunya.
Ini alasan nyata mengapa saya menerka dia.
Berusaha mengerti maunya agar sakit yang ada tak terasa begitu nyeri.
Iya, saya memang pengecut.
Saya takut nyeri yang ada terlalu menyiksa hati saya.
Otak saya pun angkat tangan untuk berlogika, dia tidak bisa menghentikan aliran nyeri ke pusatnya.
Alhasil, saya meradang.

Dia begitu misterius, menggemaskan kadang.
Terlalu nyaman bersembunyi, tapi dalam diam juga menghasilkan luka yang besar.

' lihat bagaimana saya bisa mengabaikan ini semua, tanpa saya melakukan apa apa. Minimal ya menerka, supaya saya bisa bersiap dengan segala kemungkinan yang ada. '

Ini memang sebuah pembelaan nyata dari saya.
Tapi tentu saja otak saya tidak sepakat dengan pembelaan ini.
Dia membelot. Tak mau patuh dengan hati maupun saya yang empunya.
Jadilah dia berkelana entah kemana, asal tidak menelik rasa yang ada sekarang.
Dia berusaha melindungi. Karena terkadang terlalu peduli mengakibatkan kesakitan yang berlebih.
Dia berusaha memutarkan rekaman yang ada, sebagai alasan nyata ' kenapa harus berhenti disini.'

Dan saya. Hanya terdiam. Membisu menyaksikan pertengkaran hati dan otak saya.
Mereka tidak akur seperti biasanya.
Hati saya terlalu perempuan, dan otak saya terlalu ingin menjadi laki-laki.

Tertanda,
Aku.

0 komentar:

Posting Komentar