Rabu, 02 Januari 2013

say hello to 2013

2012....

tahun ini berlalu begitu saja
senang, tangis, jatuh, bangkit, terus jatuh lagi nangis lagi karena orang yang sama.

" lo ga cape mut nangis karena orang yang sama terus?" - Rizka, 20 thn. sahabat gue-

" dia kenapa lagi sampe lo nangis segininya? dia bilang apa?" - Sudding, 20 thn. sahabat gue -

" hati itu ibaratnya mobil. dia butuh berhenti sesaat buat isi bensin sebelum jalan lagi." -kamu, 20 thn.-

yaa.. ini semua tentang hati.
tentang sistem limbik yang mengatur perasaan kamu. dan.. kenangan itu adalah musuh utama sistem limbik gue untuk 9 bulan di tahun 2012.

turun berat badan sampe 5 kilo, pipi yang tadinya mengembang sempurna kaya roti dengan kualitas baik mengecil, tirus sempurna.
insomnia, muka pucet, mata panda, lusuh.
yaa itu gue selama 9 bulan di tahun 2012 ini.

isi doa gue pun setiap gue menghadap Tuhan ikut terpengaruh.
dari meminta kepada Alloh untuk dihilangkan semua perasaan yang udah terlanjur dalam, sampe minta dia cuma buat gue jangan buat orang lain.
dan pada akhirnya, gue tau doa apa yang bener yang harusnya gue minta ke Alloh di penghujung tahun 2012.

gue meminta kepada Tuhan untuk memberikan yang terbaik untuk dia dan wanita yang ga pernah hilang dari hatinya bahkan saat pacaran sama gue :)
dan yang paling penting gue meminta Alloh melunakkan hati gue untuk memaafkan. ya satu kata "forgive".

tapi terlepas dari semua kisah 2012 gue yang sedih, suram atau apapun itu.
terselip syukur yang ga berhenti mengalir dari bibir dan hati gue.
Alloh ga pernah tidur. Dia memberikan orang-orang hebat di hidup gue yang membantu gue untuk bangkit.
orang-orang yang baik yang mau tetep dideket gue yang murung , senyum, merasa lagi, terus balik murung lagi.

And Now...
say " welcome " to 2013.

tahun baru, resolusi baru, pikiran baru, iman yang lebih baik, hati yang baru dan yang terpenting gue yang baru :) insyaAlloh.
tapi satu yang pasti. berat badan gue ga pernah balik ke angka semula.
artinya, sesuatu yang lewat, ga akan pernah terulang kan? tugas kita sebagai manusia hanya menjalani dan mengambil pelajaran yang akan berguna kedepannya. :)

tertanda,
aku :)

Minggu, 23 Desember 2012

Sebongkah hati

Tak banyak yang aku harapkan
Ketika pertama kali hati ini memilih kamu disebuah gedung sekolah menengah pertama waktu itu
Tak banyak yang aku pinta pada Tuhan
Aku hanya ingin kamu bahagia lahir batin.

Tak terlihat, tapi perasaan ini selalu menggelayuti sebongkah hati yang tidak mempunyai apa apa untuk kamu
Selalu menyumbang rasa sakit yang nyata
Selalu menyumbang berjuta kata doa yang mengalun untuk kamu dan dia.
Sampai pada akhirnya, aku putusnya untuk menghilang dari lingkaran hidup kamu
Memutuskan semua tali yang terhubung ke kamu.

Entah apa rencana Tuhan kali ini.
Kamu menyelusup masuk lagi kedalam sebongkah hati yang tak aku sadari selalu menyimpan bayang.
Selalu menyimpan semua tentang kamu dengan rapi disalah satu sudutnya.
Kamu yang terluka. Kamu yang membutuhkan pertolongan. Kamu yang mempercayakan hati kamu kepadaku untuk diobati agar dapat berfungsi seperti semula.
Dan saat itu. Aku bimbang. Aku takut. Aku takut akan suatu hal yang belum tentu terjadi.

Namun pada akhirnya. Hanya sebongkah hati yang berbicara.
Hanya bongkahan hati ini yang menuntunku padamu. Hanya bongkahan hati ini yang membuatku selalu tegar sampai detik ini untuk mengobati hati kamu agar dapat berfungsi seperti semula.
Ya... Hanya bongkahan hati ini.

Tak lama, hati kamu bisa berfungsi seperti semula. Dan perlahan melupakan bongkahan hati yang semakin kurus karena memberikan hati kamu energi untuk bangkit. Memberi hati kamu rasa percaya agar lukamu terobati. Yang memberi hatimu semuanya atas nama cinta dan ketulusan.

Ya hati mu telah kembali berfungsi seperti semula, dan.... Kembali mencintai dia.
Selangkah demi selangkah meninggalkan bongkahan hati yang retak dan hancur.
Tak ada yang bisa mengobati lukanya sampai detik ini.
Tak ada yang bisa dia lakukan. Dia sekarat, koma, sakaratul maut.
Tak ada yang dia lakukan selain memanggil kamu dengan berbisik seraya meneteskan air mata.
Dan akhirnya dia sadar, bahwa kamu semakin menghilang.

Bongkahan hati ini, untuk kamu
Dan entah sampai kapan untuk kamu.
Dia sudah terlalu lelah untuk memaksakan dirinya untuk tidak berlayar kehatimu yang semakin menjauh berjalan menuju hatinya.

Bongkahan hati ini untuk kamu.
Dan entah kapan Tuhan mengizinkan dia pensiun dari semua kegiatannya yang selalu mencintai kamu.

Tertanda,
Aku.

Jumat, 14 Desember 2012

Untaian doa untuk kamu

Aku pun mulai lupa kapan ritual ini terakhir aku lakukan
Aku sedang tidak mengenakan mukenah seperti biasa ketika aku laksanakan ritual ini.
Aku sedang tidak duduk bersimpuh di hadapan Tuhanku.

Aku hanya duduk di anak tangga ini dan memandang lurus kedepan.
Memperhatikan angin yang menggerakan daun daun di hadapanku.
Menikmati bising disekitarku.
Sudah lama rasanya tidak bersahabat dengan kebisingan yang ada.

Aku selalu menjauhi bising semenjak hari itu.
Tapi hari ini.. Bising bising ini bagai untaian not not balok yang merangkai nyayian merdu.
Enak untuk didengar dan pantas untuk di nikmati.

Telingaku menikmati bising yang ada, mataku terlena oleh buaian angin
Tapi kegiatan asing lain yang dilakukan hatiku.
Berdetak tapi tidak seperti yang selalu dia lakukan selama 9 bulan ini.
Begitu kencang, begitu riuh, begitu sesak tapi begitu menyenangkan.
Di sela sela keriuhannya hatiku melakukan ritual lain yang sudah lama tidak pernah aku lakukan lagi
Berdoa...

Tidak, aku tidak berdoa untuk diriku sendiri siang ini.
Tidak juga meminta Tuhan meminjamkan kekuatan seperti biasanya yang aku lakukan slama 5 waktu dalam sehari.

Aku mendoakanmu.
Mendoakan kamu yang ada disana. Mendoakan mu yang sedang bersimbuh keringat disana.
Ya hatiku mendoakan mu.

Jari jemariku terkait satu dan yang lain
Hatiku tetap melantunkan untaian doanya.
Kamu tetap menyita semua bagian doa.

Yaa lantuan doa ini untuk kamu :)
Sukseees !!

Tertanda,
Aku

Minggu, 02 Desember 2012

Sekelumit kisah tentang hujan

Kisah ini menceritakan betapa hujan dapat menyimpan kisah yang indah
Hujan dapat mengisahkan apa yang telah dia rekam dengan apik kepada orang yang bersahabat dengannya..
Betapa titik hujan yang dingin di telapak tanganku saat ini , bercerita terlalu banyak tentang kenangan..

Dan sekeras apapun aku menghindarinya dia tetap memelukku dengan butiran
Betapa aku mencoba membenci dan menjauhinya, dia semakin membuka tabir kenangan..

Kisah ini tentang kamu
Tentang semua yang telah kamu akhiri.
Dan tentang semua yang akan kamu mulai nantinya.

Dibawah hujan ini, aku mencoba mempersiapkan diri untuk tetap tersenyum ketika berhadapan denganmu dan sihadapkan dengan sejumlah kenangan yang menyakitkan.
Dibawah hujan ini aku mempersiapkan segala kemungkinan ketika pita suaraku harus mengucapkan "selamat" suatu hari nanti.
Dibawah hujan ini....
Dibawah hujan ini, aku membunuh semua rasa rinduku.
Dibawah hujan ini, aku membunuh semua keyakinanku.
Dibawah hujan ini....
Dibawah hujan ini aku mulai berdoa...
Berdoa yang kutujukan untukmu.

Sekelumit kisah tentang hujan hari ini..
Hujan yang memelukku dan memeluk doaku.
Sekelumit kisah tentang hujan yang selalu nakal menggambarkanmu dengan jelas dalam setiap bulirnya yang turun.
Sekelumit kisah tentang hujan yang indah,ntapi menyakitkan untukku.
Sekelumit tentang kamu :)


Tertanda,

Aku.

Kamis, 04 Oktober 2012

Biarkan perahu ini berlayar dan bermuara ketempat seharusnya dia bermuara



mungkin kita bisa menyebut ini pasrah.
atau anggap saja aku menyerah.

tak ada yang bisa membohongi sesuatu yang kita sebut hati.
tak ada yang bisa melawan sesuatu yang kita beri nama takdir.
dan tak ada yang bisa memahami semua ini.

kamu dan aku hanyalah seorang tokoh yang berusaha memerankan perannya masing-masing.
mengikuti alur cinta ini sampai pada ujungnya.

dan inilah sebagai akhir dari sebuah kisah.

menciptakan sebuah jarak yang terasa begitu jauh dan menyakitkan.
membangun sekat yang tak terlihat. menghilangkan semua yang ada.
inilah kerja sesuatu yang kita pahami sebagai takdir.

mungkin ini nantinya akan aku beri nama menyerah.
atau mungkin akan aku panggil pasrah.

biarkan perahu yang telah kehilangan kemudi ini menentukan arahnya.
menentukan kemana dia akan bermuara.
menentukan dimana dia akan berhenti.

jadi, biarkan perahu yang telah kehilangan kemudi ini bermuara ketempat dimana seharusnya dia bermuara.
ya.. biarkan perahu ini berlayar mengikuti arah aliran takdir akan membawanya.

aku titipkan kemudi perahu ini kepada takdir, karena ternyata aku mulai lelah untuk mengemudikannya sendiri dan melawan badai yang ada.

tertanda,
Aku.


Tahu Diri - Perahu Kertas -

Hai...
selamat bertemu lagi
Aku sudah lama menghindarimu
Sialku lah kau ada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Rasanya tak ingin bernafas lagi
Tegak berdiri di depanmu kini

Sakitnya menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati

Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi

Bye..
selamat berpisah lagi
Meski masih ingin memandangimu
Lebih baik kau tiada di sini
Sungguh tak mudah bagiku
Menghentikan segala khayalan gila
Jika kau ada dan ku cuma bisa
Meradang menjadi yang di sisimu
Membenci nasibku yang tak berubah

Dan upayaku tahu diri tak selamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah lagi

Berkali-kali kau berkata kau cinta tapi tak bisa
Berkali-kali ku telah berjanji menyerah

Dan upaya ku tahu diri tak selamanya berhasil
Dan upaya ku tahu diri tak selamanya berhasil
Pabila kau muncul terus begini
Tanpa pernah kita bisa bersama
Pergilah, menghilang sajalah
Pergilah, menghilang sajalah
Pergilah, menghilang sajalah lagi

Senin, 01 Oktober 2012

mari kembali beberapa langkah untuk langkah yang lebih jauh

malam ini..
percakapan singkat. entah sudah yang keberapa kali ini terjadi diantara kita setelah hari itu.
setelah percakapan percakapan panjang kita yang seperti tiada akhir.

kamu benar.
" kamu emang udah coba. dari intensitas memang udah berkurang. tapi, dari kualitas ga ada yang berubah. tetap nol."

kamu benar.
" kalo misalnya hati itu punya mata. ya berusahalah melihat. kalo misalnya hati itu punya telinga. berusahalah mendengar."

kamu benar lagi.
" kita sedang berbicara tentang masa ini. tidak berbicara masa nanti."

tapi...
seandainya kamu yang ada di posisi ini.
dengan segala upaya sudah kamu coba. mulai dari yang cukup menyakiti sampai yang benar-benar menyakiti.
dan kamu akhirnya menemukan jalan buntu. entah harus mencoba cara apa lagi. apakah kamu akan tetap berpendapat seperti itu?

iya kamu benar. kamu benar sekali. terima kasih.
mungkin tamparan lembut ini yang nantinya menjadi cambuk untuk aku terus berlari.
berlari. berlari dan berlari lagi meninggalkan semua yang sudah terlanjur kelam dan hitam.

terima kasih buat kamu yang disana.
yang telah memberi tamparan halus tapi membawa efek besar untuk nantinya :)

aku hanya bisa berbisik lembut agar relung hatiku yang masih kekeuh menyimpanmu turut mendengar instruksiku sebaik-baiknya.
" mari kita mundur selangkah. kita mulai dari awal semuanya hari ini, malam ini, jam ini, menit ini, detik ini. untuk beribu langkah nantinya."

tertanda,
AKU-